Cerita Sex Akibat Tradisi – Part 3

Cerita Sex Akibat Tradisi – Part 3by adminon.Cerita Sex Akibat Tradisi – Part 3Akibat Tradisi – Part 3 Aku meletakkan uang logam di punggung tanganku, melemparnya ke atas, dan menangkapnya lagi bak menjerat seekor nyamuk. Kubuka kedua telapak tangan sambil kuintip ke dalam. “Angka.” kataku dalam hati. Pagi itu, Aku bertaruh dengan diriku sendiri. Kalau angka yang kudapatkan, berarti ada banyak keberuntungan menimpaku hari ini. Aku tersenyum senang […]

tumblr_nsjeqoaY001uxr5imo4_1280 tumblr_nsjeqoaY001uxr5imo5_250 tumblr_nsjeqoaY001uxr5imo5_1280Akibat Tradisi – Part 3

Aku meletakkan uang logam di punggung tanganku, melemparnya ke atas, dan menangkapnya lagi bak menjerat seekor nyamuk. Kubuka kedua telapak tangan sambil kuintip ke dalam. “Angka.” kataku dalam hati.

Pagi itu, Aku bertaruh dengan diriku sendiri. Kalau angka yang kudapatkan, berarti ada banyak keberuntungan menimpaku hari ini. Aku tersenyum senang dan melangkah keluar dari ruang guru dengan girang. Tapi, belum sempat separuh badanku keluar melewati daun pintu, aku harus berkelit seketika.

“Hati-hati…!” seruku.

Anak-anak yang membuatku kelimpungan itu berlarian liar di depanku, berguling-guling, memuntahkan candanya satu dengan lainnya, namun acuh terhadap orang lain yang hilir mudik di situ.

Tidak hanya aku yang repot oleh ulah anak-anak kelas 3 dan 4. Pak Wiryo, si tukang kebun yang mengabdi 20 tahun di sekolahku, juga harus berulang kali menyeimbangkan nampannya, berkelit dari anak-anak yang menerobos ke sana kemari, agar teh-teh para guru yang ada di atas nampan itu tidak tersenggol dan terpelanting ke bawah.

Aku mengontrol nafasku yang sempat terpicu kencang. Walaupun dongkol, aku berusaha menghibur diri. Biarlah. Ini hari istimewaku. Harus kunikmati.

Di depan ruang kelas 6. kakiku mengayun lambat. Aku melongok ke dalam kelas lewat daun jendela yang terbuka. Di dalam kelas itu, anak-anak asuhan Pak Darto ribut dengan urusannya masing-masing. Rio sedang pamer gasingnya yang baru. Didit, yang bersila di depannya, sok mengomentari gasing-gasing yang saling beradu kuat di lintasan darurat yang hanya terbuat dari kardus bekas. Duduk di barisan depan menghadap ke arah meja murid, ada Santi.

Santi menoleh ke arahku dan ketika mata kami saling beradu, ia kaget dan membuang wajahnya, pura-pura mengacuhkan kehadiranku. Ia malah memperhatikan dengan canggung balutan alat tensi yang mencengkeram lengan kanannya. Matanya yang sipit berkedip-kedip kikuk. Di kanannya, ada seorang anak muda bertampang serius sedang memegang stetoskop yang ditekan di atas jalur pembuluh darah gadis paling manis di sekolah ini.

Di depannya, ada Deva yang sedang menenggelamkan wajahnya ke atas meja. Tangannya terlipat. Ia sedang menunggu giliran seperti anak yang tidak memiliki masa depan. Di depannya, Iyuth sedang sibuk memainkan jari-jarinya di tombol ponsel. Ia duduk dengan kaki kiri dipangku. Roknya agak tersibak sedikit dan untungnya, ia tak menyadari hal itu.

Aku beringsut mundur, dan sebelum wajahku benar-benar hilang dari balik daun jendela, kuperhatikan Santi mencuri-curi pandang ke arahku.

Aku menyusuri selasar. Anak-anak kelas satu berbaris dengan wajah tegang di muka pintu. Tegang dan ketakutan. Satu per satu, lengan mereka disuntik. Vaksinasi, kata guru-guru. Setelah jarum suntik menggigit lengan mereka sampai berdarah, tangis pecah pun terdengar membahana.

“Cup-cup-cup, sudah.” bujuk Bu Surti. “Anak jagoan kok. Rasanya seperti digigit semut, kan?!” Guru keterampilan itu cukup berjasa mengendalikan emosi anak-anak yang selalu takut jarum suntik.

Beberapa langkah ke arah timur, tepat di depan ke ruang UKS, aku menengok ke arah dalam, melihat Pak Darto sedang dibaringkan di atas dipan darurat. Aku tersenyum simpul mengamati badan gemuk itu seperti seekor sapi yang hendak diinseminasi. Lengannya menutup dahinya seperti orang yang baru siuman dari pingsan. Tangan kirinya dipasangi sebuah selang yang menyedot darahnya, mengalir ke dalam kantong plastik khusus yang telah disiapkan.

“Sudah sering donor darah, Pak?” tanya seorang pemuda ramah yang pagi itu menunggui Pak Darto. Pak Darto tidak menjawab dari mulutnya. Ia hanya mengacungkan dua jarinya ke atas.

Ruang UKS itu terbagi menjadi dua bilik yang lebih kecil, dipisahkan oleh selembar kordin. Di balik kordin itu, si kembar Maya dan Mia sedang diperiksa oleh seorang pemuda berjas putih. Berkacamata tebal dengan rambut disisir klimis. Tangan kanan pemuda itu menyusup ke dalam pakaian Maya sambil berusaha mendengarkan irama jantung yang keluar lembut dari dada anak itu dengan serius. Mia, saudari kembarnya, berdiri tegak di atas pengukur ketinggian badan sambil menghitung-hitung seberapa jangkung dirinya.

Hari itu sungguh ramai dan riuh.

Udara pagi segar bak sedang membersihkan paru-paruku dan sinar matahari cukup terang menyengat, membuat halaman sekolah bersinar keemasan. Hari ini terasa beda. Yang membedakan hari itu dengan hari-hari biasa adalah kedatangan anak-anak muda berjas putih yang hilir mudik di selasar seperti gerombolan orang sok penting. Usia mereka kira-kira 20 hingga 25 tahun. Sepertinya, pria lebih banyak dibanding yang perempuan. Beberapa pemuda yang berpapasan denganku menganggukkan kepala dengan hormat, “selamat pagi, Pak!”

Aku membalas mereka dengan senyuman.

Seperti pagi itu, ketika aku hendak beranjak dari pintu ruang UKS menuju ruang Bu Irda, seorang gadis tinggi langsing berwajah blasteran mengenakan jas putih bersih berpapasan di depanku. Ia menganggukkan kepala dan senyumnya merekah, menampakkan gigi yang dibebat oleh kawat (behel) warna-warni. Stetoskop menggantung angkuh di bawah lehernya yang jenjang. Ia melangkahkan kaki agak cepat dan panjang, berjalan begitu anggun, mirip seorang dokter sungguhan.

Seolah-olah tertarik oleh medan magnet, pandanganku bergerak mengikuti kemana ia pergi. Rambutnya yang pirang bergoyang ke kanan dan ke kiri. Dan, ketika ia sudah larut di tengah keriuhan, aku membalikkan badan. Tiba-tiba saja, Bu Irda keluar dari ruang kepala sekolah dan hendak menabrakku. Kami berdua kaget dan tersentak.

“Oh, Fred…” pekiknya.

“Eiiit… Hampir nabrak Bu Irda,” kami berdua tertawa kecil.

“Kamu sudah diperiksa, Fred?” tanya Bu Irda.

“Ah, belum, bu. Soalnya aku ingin diperiksa Bu Irda saja deh.” tawaku menggoda.

“Dasar! Eh, jangan lupa ya…” kata Bu Irda seperti mengingatkan sesuatu. Sebelum menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba, seorang pemuda berjas putih berdiri di belakang Bu Irda. Kepala sekolah kecil yang manis ini lantas membalik badannya dan tangannya menerima sesuatu dari tangan si pemuda bertampang serius itu. Sebuah map.

“Oh ya, terima kasih.” jawab Bu Irda singkat kepadanya. “Nanti kita ke bukit, Fred, seperti yang sudah pernah saya bilang tempo lalu,” kata Bu Irda mengakhiri pembicaraan.

“Iya, Bu, saya pasti tidak lupa.” jawabku.

Bu Irda melangkah menjauh dari pandanganku.

Tempat itu penuh dengan mahasiswa yang sedang menjalani Kerja Kuliah Nyata. Mereka mahasiswa kedokteran dan sedang mengadakan penyuluhan dan pemeriksaan gratis.

Hari itu sungguh sibuk. Tapi aku sungguh senang, menunggu keberuntungan yang mungkin akan datang hari itu.

***

Aku menunggu Bu Irda. Kami sepakat untuk pergi ke suatu tempat yang belum pernah aku jelajahi. Bu Irda berjanji, jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Kami sepakat untuk menghampiriku terlebih dulu ke rumah pukul 8.00 malam. Tapi sekarang masih pukul 6.00 sore. Karena gerah di dalam rumah, aku mencari angin di teras.

Angin menyentuh lembut tubuhku. Walaupun masih sore, tapi langit sudah amat gelap. Mungkin karena berada di tengah desa yang sunyi dan tak dilengkapi penerangan yang cukup. Beberapa kali terdengar suara burung bangau sawah melintas di langit hitam pekat secara bergerombol.

Aku menarik nafas panjang-panjang untuk menghalau lelah. Belum sempat semua nafas kuhembuskan kembali, di ujung jalan, aku melihat sesosok perempuan. Berpakaian putih dan berjalan cukup cepat. Mendekatiku. Kupikir ia adalah Bu Irda. Tapi buru-buru kutepis dugaanku itu karena sosok ini bertubuh langsing dan tinggi.

Setelah lampu jalan menyorot remang-remang, baru aku melihat sosok itu dengan jelas. Gadis berambut panjang dan berponi Cleopatra ini mendekat. Indah, mahasiswi yang aku temui pagi tadi di dekat ruang UKS. Aku tahu namanya dari Pak Darto yang baru saja dihisap darahnya.

“Kamu tahu nggak, Fred, itu cewek yang rambutnya pirang panjang sepundak…” kata Pak Darto membuka pembicaraan. “…si Indah itu, Fred. Wuiih… maknyus…” katanya terkekeh seperti ikan buntal.

Sepertinya Pak Darto memuji Indah, gadis putih berbadan langsing dan bergigi behel yang berpapasan denganku di selasar. Gara-gara Pak Darto, aku tahu nama mahasiswi berkulit putih itu sebelum aku menanyakannya ke orang lain.

Hmm, kadang-kadang Pak Darto ada fungsinya juga, gumamku.

“Malam, Pak.” sapa gadis itu terlebih dulu sebelum aku sempat menyapu rasa heranku.

Mengapa gadis ini datang malam-malam? pikirku. “Loh, Indah… kok malam-malam sendirian ke sini? Ada apa?” tanyaku menyelidik.

“Gini, pak. Saya mau numpang mandi. Siang tadi group A sudah selesai membangun satu bilik. Jadi kucoba untuk mandi di situ…” jawabnya sambil tersenyum. Giginya yang terbebat behel tampak merekah ketika ia tersenyum.

Bilik kamar mandi yang dimaksud berjarak kira-kira 500 meter dari rumah. Agak naik dan gelap. Maka, aku tambah heran. “Lah, kok kamu ke sini, kok nggak di dekat tempatmu menginap?”

“Mereka sudah pergi, pak. Katanya ke balai desa, mengadakan penyuluhan. Aku ditinggal pergi dan aku tak tahu pasti dimana kamar mandi terdekat dari tempat kami tinggal. Yang kutahu, dekat sini sudah dibangun satu bilik. Jadi kuberanikan datang kemari.” jawabnya.

Aku mulai mengerti. Karena ia mengenakan behel, cara ia menggerakkan bibirnya cukup menggemaskanku. Bibirnya agak tebal tapi sensual. Berkali-kali ia berusaha melipat bibirnya ke dalam agar terbasuh oleh air liurnya.

“Kamu tidak takut mandi sendirian? Hari sudah gelap.” saranku.

“Terpaksa, pak. Sudah keringatan dan gerah. Ada bapak kan. Lagian, saya bawa lilin kok.” katanya setengah membujuk. Selain handuk dan peralatan mandi, tangannya memegang sebatang lilin dan korek api.

Melihat keteguhan hatinya untuk mandi malam itu juga, aku mengiyakan. Lagipula, wajahnya sudah begitu dibasahi oleh sisa-sisa keringat yang mengkilat kotor di kulitnya yang putih. Matanya tajam di balik alisnya yang hitam seperti semut berbaris. Walaupun berambut pirang, namun alisnya hitam.

“Oke deh kalau begitu,” aku setuju menemaninya.

Kami berjalan berdua, beriringan. Indah mengenakan kaos putih dan celana sebetis berwarna hitam. Ia tampak lebih tinggi karena selain memang badannya jangkung, ia mengenakan sandal yang cukup tebal.

“Gelap ya, pak? Tapi ada bapak, nggak bakal ada apa-apa, kan?” tanyanya sedikit meragukanku.

“Aman kok, cuma dingin banget malam ini.” kataku bergidik.

Kami melewati jalan terjal dan kebun pisang. Sesekali, jari-jari lentiknya berpegangan di pundakku untuk menjaga dirinya agar tidak jatuh. Maklum, medan yang harus kami lalui cukup terjal.

Aku memperhatikan Indah dari segala sudut. Belakang, samping, dan depan. Tergantung medan yang kulalui. Ia tetap cantik walaupun dilihat dari sudut manapun. Dari samping, aku bisa melihat hidungnya yang mancung sempurna seperti orang Eropa. Rambutnya disisir rapi sehingga telinganya yang lancip, tampak eksotik. Mirip peri.

Akhirnya, kami melihat bilik itu di antara remang-remang malam.

“Semoga nggak ngrepotin, pak.” kata gadis manis ini begitu kami berada 5 meter di depan bilik yang tak berlampu itu.

Aku tersenyum kecil. Kutemani ia sampai di depan kamar mandi darurat yang sempit itu. Bilik kamar mandi itu masih mengkilat karena baru diplester siang tadi oleh para penduduk. Bak mandinya pun cukup kecil. Hanya saja, di dalamnya tidak dilengkapi kloset. Katanya, kloset akan dibangun terpisah.

“Saya tunggu di sini.” kataku. Aku menghentikan langkahku kira-kira tiga meter dari kamar mandi. Dan, kududukkan diriku di sebuah cor-coran semen yang akan menjadi semacam tugu monumen bagi para mahasiswa itu.

Indah melanjutkan langkahnya, mengontrol gerakan kakinya dengan hati-hati. Sesekali ia tersandung, membuat rambutnya yang sepunggung, tergerai tak beraturan. Ia harus membentangkan tangannya lebar-lebar untuk menjaga keseimbangannya. Bajunya yang ketat membentuk garis tubuh yang sempurna.

Akhirnya, ia berhasil masuk ke dalam kamar mandi kecil itu. Sebelum menutup tirai, ia menyalakan lilin dengan korek yang sudah ia siapkan dan meneteskan lelehan lilin cair ke atas bak kecil.

Aku mengamati dari belakang. Pantatnya yang kencang terbentuk di balik celana ketatnya itu. Setelah lelehan itu cukup tinggi, ia menancapkan lilin di atas bak mandi dan menarik tirai ke ujung pintu, mencantolkannya ke paku kecil yang sudah disediakan.

“Pak, mandi dulu ya…” katanya sebelum tirai itu benar-benar mencegahku melihat tubuh langsingnya bersembunyi di dalam bilik darurat itu.

Kumemendam hasrat ingin melihatnya telanjang di Umbul. Indah adalah mahasiswa. Nggak mungkin lah berani telanjang di tempat terbuka. Pikirku kecewa.

Kumainkan nada dari bibirku yang aku bentuk menjadi huruf O. Siulan bisa menghibur diriku sekaligus menghalau rasa takut di tengah kegelapan malam itu. Bintang-bintang memancar terang di langit. Namun sepertinya cahayanya tak sanggup menerobos daun-daun bambu yang berderit-derit menghembuskan nada seram.

Aku menggosok-gosokkan telapak tanganku dengan cepat. Setelah terasa panas, kutempelkan telapak tangan itu ke wajahku. Hangat sekaligus demi mengusir kantuk.

Dengan nyala lilin yang memendar keemasan, kamar mandi itu menjadi cukup terang dari dalam. Tapi Indah sepertinya tidak sadar. Cahaya lilin itu justru memantulkan tubuh si Indah ke tirai kamar mandi, menjadi semacam siluet yang menerawang ke permukaan tirai itu. Kain putih tipis yang seharusnya berfungsi untuk menutup siapapun yang bersembunyi di dalam kamar mandi itu justru menjadi semacam layar tancap.

Jadi, malahan aku bisa melihat dengan kentara kontur atau garis tubuh Indah lewat siluet yang terpantul di atas permukaan kain putih itu. Pendek kata, aku bisa menyaksikan dengan jelas semua gerakan yang dilakukan Indah di dalam kamar mandi meskipun hanya berbentuk bayangan.

Kantukku hilang sekejap dan jantungku mulai berdetak kencang. Pengalaman apa lagi yang akan aku dapatkan di desa ini? Ah, mungkin ini gara-gara uang logam yang aku mainkan tadi pagi.

“Pak Alfred?” Indah menyeru dari dalam kamar mandi. Agak mengagetkanku.

“Yaa,” jawabku setengah berteriak. “Saya masih di sini kok, nggak kemana-mana.”

“Ohh,” balas Indah, “Kupikir udah pulang. Tadi lagunya bagus, sekarang kok nggak bersiul lagi. Kesannya sepi gitu.” Indah memastikan kalau aku masih duduk di situ.

Gara-gara tegang, aku tak menyadari kalau aku sudah berhenti bersiul. Sepinya tempat itu tak mampu menakutiku. Sekarang, aku tegang karena tontonan cuma-cuma di depan mataku.

Kamar mandi begitu hening. Sepertinya, Indah sedang sibuk melucuti pakaiannya satu demi satu. Gadis ini menarik kaosnya ke atas dan menggantungkannya ke paku yang sudah disiapkan di dalam. Lalu tak seberapa kemudian, kedua tangannya mendorong pelan celana hitamnya ke bawah. Aku tak bisa melihat tubuh Indah dengan sempurna. Hanya gerakan-gerakan erotis saja yang bisa kunikmati.

Lalu tangannya terlipat ke belakang, berusaha meraih kaitan BH-nya, dan melepasnya dengan lincah. BH itu pun meluncur di antara tangan-tangannya, menunjukkan garis payudara yang besar dan sempurna. Indah lalu mendorong celana dalamnya sebatas lutut dan mengangkat kakinya satu demi satu.

Indah sudah telanjang. Pantatnya bulat dan tampak empuk. Kakinya jenjang tinggi dengan betis yang ramping. Aku hanya bisa membayangkan ketelanjangannya lewat tirai putih yang memantulkan tubuh Indah itu dari luar. Nikmatnya malam itu, bisa mengintip tanpa perlu benar-benar mengintip.

Sejurus kemudian, Indah mengguyur kepalanya dengan seciduk air. Byuuurrrr… suara dari kamar mandi mulai terdengar, menghalau senyapnya malam itu. Indah tampak bergidik, menahan dingin. Lantas, satu demi satu, guyuran air mengairi tubuhnya yang telanjang. Kepala, pundak, hingga area selangkangannya.

Ia mengambil botol sabun dan busa dari tas plastiknya. Sambil memiringkan tubuhnya ke kiri, tangan kecilnya menunangkan sabun itu ke atas busa, meremasnya, dan menggosok badannya. Posisi tubuhnya yang menyamping itu membuat garis-garis payudaranya terlihat jelas. Kunikmati momen-momen mandi itu dengan seksama, sambil menggosok pelan jari-jariku ke kain celana yang seolah-olah tak mampu menahan tegangnya burungku.

Indah menikmati mandinya di alam terbuka sambil sesekali berdendang.

“Auuuwww…” tiba-tiba Indah mengaduh keras. Sebentar kemudian, terdengar seperti ada dua benda yang diadu. Duk-duk-duk.

“Ada apa, In?” teriakku kaget, langsung melompat maju.

“Perih, pak. Duh!” rintihnya.

Aku maju tapi ragu-ragu. Takut mengganggu privasi Indah. “Memangnya kenapa?” tanyaku memburunya. Aku panik. Jangan-jangan ada ular atau hal-hal menakutkan lainnya. Bagaimana kalau Indah dipatuk ular? Walaupun ia mahasiswi fakultas kedokteran, tetapi untuk urusan seperti ini, pasti agak repot urusannya.

“Mataku pedih, pak.” kata Indah dari balik tirai. “…terkena shampoo. Airnya di bak… duh, sudah habis.” Indah mengaduh. Suara keras itu muncul akibat benturan antara gayung dan dasar bak mandi.

“Oke-oke, aku ambilkan air dulu di sumur. Nggak jauh kok, di bawah bukit…” sahutku setengah panik.

“Ja-jangan, pak. Nanti Indah sendirian.” melasnya.

“Terus?” tanyaku berusaha minta pendapat.

“Gini deh, pak. Aku ikut aja ke sumur. Bisa aku tahan kok sakitnya.” pinta Indah.

“Hah?!” jawabku setengah berteriak. “Kamu kan masih sabunan?”

“Nggak pa-pa, pak. Daripada sendirian.” jawabnya meyakinkanku, “Indah handukan dulu.”

“Serius, In?” tanyaku sekali lagi.

“Serius, pak.” jawabnya sambil mengulurkan tangan mengambil handuk dan membebatkannya di tubuh telanjangnya. Praktis, ia seperti gadis yang terbungkus kemben. Aku melihat bayangannya samar-samar dari balik tirai.

Ia keluar pelan-pelan dari bilik kamar mandi. Aku berulang kali mengingatkannya untuk hati-hati saat melangkah. Tanganku menerima pakaiannya.

Tubuhnya masih licin oleh butir-butir sabun dari rambut hingga tangan dan kakinya. Wajahnya penuh sisa-sisa shampoo yang belum sempat terbilas. Matanya berkeriyip-keriyip menahan pedih sekaligus ingin mengintip menembus ke dalam kegelapan malam. Kuraih tangannya yang masih basah itu ke bawah.

“Aduh, Indah, kok kamu nggak liat airnya kalau mau habis sih?!” kataku sedikit menyalahkannya.

“Habis terlalu semangat mandinya.” jawab Indah yang berkali-kali berusaha menyeka buih-buih shampoo dari matanya.

Kami berjalan terburu-buru. Tapi tetap kusempatkan melirik bagian belakang lehernya yang putih dan pundaknya yang mulus. Ingin kucium lembut anak ini dari belakang. Namun buru-buru kuhilangkan hasratku itu. Kalau aku jahat, sudah kutarik handuk itu!

“Cepet, pak. Udah perih nih.” dia mengeluh.

“Iya, sabar dikit. Bentar lagi.” jawabku dengan nafas tertahan.

Kami sudah tiba disumur lima menit kemudian. Dengan nafas tersengal-sengal, aku menimba air dari sumur. Begitu ember sudah sejajar dengan mulut sumur, kutarik dan kuletakkan di bibir sumur. Lalu, kupegang tangan Indah dan kugiring meraih ember penuh air itu.

Karena sudah menahan pedih di matanya terlalu lama, Indah langsung merebut ember itu, mengangkatnya tinggi-tinggi dan mengguyurkan seember penuh air sekaligus ke atas kepalanya yang masih terbalut handuk. Byuuuurrrr…

Aku terkaget-kaget. Cipratannya kemana-mana, sampai membasahi celanaku.

Kagetku ternyata belum usai. Aku lebih takjub lagi ketika melihat dan menyadari, handuk yang membelit tubuh Indah yang basah terguyur air yang datang tiba-tiba itu tak sanggup menempel erat-erat di tubuhnya lagi dan…

Melorot ke bawah…!!!

Hanya diterangi cahaya bulan, aku melihat tubuh Indah yang berdiri telanjang di depanku!!!

Indah segera menyadari kecerobohannya itu, melempar embernya, dan memekik keras. “Astagaaaaa…!!!”

Tangannya refleks menutup dada dan kemaluannya. Dalam hitungan detik, ia menutupi auratnya itu dengan berjongkok menghalangi pandanganku yang mengagumi tubuhnya yang bugil tanpa ditutup sehelai benang pun itu.

Dug…!!! Jantungku berasa berhenti.

Walaupun hanya beberapa detik, aku bisa melihat dengan jelas payudara ranumnya yang mencuat menantangku. Putingnya merah muda seperti buah ceri yang baru mekar di musim semi, mempercantik payudaranya yang cukup besar, kira-kira berukuran sekitar 34C dan kencang memikat. Baru kali ini aku melihat puting merah muda dari seorang gadis.

Gadis ini benar-benar putih polos dari kening hingga kaki. Bahkan, sebelum ia berjongkok menutupi badannya yang tak dibalut apapun, aku sempat melirik daerah kewanitaannya yang tak ditumbuhi sehelai bulu pun. Polos dan mulus.

“Eh, eh, sori-sori…” kataku buru-buru setelah sadar dengan apa yang telah terjadi.

Muka Indah yang memerah menatapku seperti tampak pasrah bagaikan orang yang sudah memberikan segala-galanya padaku. “Duuuh… sial deh gue hari ini.” katanya lirih kepadaku. Keningnya mengerut dan bibirnya bergetar.

Aku berdiri seperti orang bodoh. Lalu aku mengibas-ibaskan tanganku. “Ehh… hmmm… aku nggak bakal bilang siapa-siapa kok.”

Wajah Indah mulai memanja, antara ingin teriak keras-keras, malu, dan tak sanggup berkata apapun. “Aku malu…” gumamnya.

“Ya udah, In, aku balik ke rumahku sebentar… aku ambil handuk,” pintaku. “Handukmu sudah basah kuyup.”

Indah yang masih berjongkok telanjang tak membalas usulku. Ia seperti setengah menangis. Rasa malunya sudah sangat menguasainya sehingga ketika aku meninggalkannya sebentar di tengah kegelapan malam, ia tak mengeluarkan bantahan apapun.

Aku kembali ke sumur membawa handuk kering. Tapi… oh, tidak! Indah malah sudah bangkit berdiri dan meneruskan mandi. Aku heran namun agak takut mendekat. Pantatnya yang kencang memantulkan cahaya bulan dari atas.

Antara serba salah, aku memberanikan diri maju ke depan. Indah menyadari kehadiranku, menoleh sebentar dan berkata, “Sudah telanjur, pak. Sudah basah, mandi sekalian. Lagian bapak sudah lihat semuanya…” katanya lembut sambil menggosok kakinya. Ia tampak tabah walaupun matanya terlihat sembab. Sebenarnya, Indah malah tampak lebih imut dengan ekspresi seperti itu.

“Kamu nggak malu, In? Kalau kamu nggak keberatan, saya tunggu di rumah…” tanyaku.

“Sudah, pak. Cuma kecelakaan kok,” katanya datar. “Bapak di sini saja, nggak apa-apa.”

Byuurrr… air dari ember yang ditimbanya sendiri mengguyur badannya. Tubuhnya yang telanjang memantulkan cahaya-cahaya eksotik dari bulan. Berbeda dengan tiga gadis usil dari tempatku bekerja, Indah jelas jauh lebih indah. Sesuai namanya. Ia gadis dewasa dengan badan yang sudah matang sempurna. Pinggul yang meliuk seksi, menambah gairahku. Belum terlihat kerutan-kerutan di sekitar pantat dan kakinya.

Ia mengambil sikat gigi yang diletakkan di lantai dengan menunduk membelakangiku. Sekilas, meki merahnya terlihat dari balik belahan pantatnya. Ingin kucubit pantat imut itu sama seperti yang kulakukan terhadap Santi.

Tangan kanannya menggosok giginya yang lucu itu sementara tangan kirinya mengurut pinggir perutnya. Otot-otot perutnya naik turun mengikuti urutan tangannya, menggoyang-goyangkan pusarnya yang dangkal menggemaskan.

Ia membiarkanku menjelajahi setiap jengkal tubuhnya seperti sudah mengenalku seribu tahun. Aku heran dengan perubahan sikapnya. Tetapi, aku tak mau terlalu berpikir keras. Malam itu, aku hanya menikmati kepolosan gadis blasteran ini yang sepertinya susah aku tebak.

Lalu setelah berkumur dan memuntahkan kumurannya itu, ia memintaku maju, meraih handuk yang kubawa. “Sudah, pak. Kita pulang ke rumah Pak Alfred dulu, sepertinya Indah kedinginan.” imbuhnya.

Ia membentangkan handuk itu di depan tubuhnya dan mengikatnya ke belakang. Menutup tubuhnya yang telanjang dari pandanganku. Setelah memeras-meras rambutnya, ia mengemasi bawaannya. Aku membantu membawakan bajunya yang kotor.

Dengan terbalut handuk putih, aku menemani Indah ke rumah dinasku. Kami tidak banyak mengobrol.

***

“Pak, bisa minta tolong?” tanya Indah sambil tangannya meremas-remas gelas hangat yang telah terisi oleh air jeruk buatanku. “…sepertinya Indah kedinginan. Pak Alfred punya minyak kayu putih?”

Kami telah sampai di rumah, kuminta Indah masuk ke kamarku. Lebih hangat di situ daripada di ruang tamu. Aku iba dengan gadis ini. Rambutnya masih basah dan ia menggigil. Indah pasti benar-benar kedinginan setelah insiden di sumur. Karena merasa bersalah, aku menawarinya sebuah pijatan untuk gadis cantik bertubuh indah ini.

Indah tak punya pilihan lain selain mengiyakan tawaranku. Mungkin ia tak mau sakit di tengah desa yang serba jauh dari fasilitas umum. Giginya menggertak keras saling beradu dan bibir manisnya pucat seperti kekurangan darah. Dalam hati, aku kegirangan sekaligus was-was, khawatir kalau Bu Irda muncul setiap saat.

Aku berjalan ke dapur meraih minyak kayu putih yang kusimpan di dalam box obat. Minyak itu kutuangkan di atas sendok bebek yang biasa dipakai untuk menciduk sayur soup. Kunyalakan kompor dan setelah api menyala-nyala, kusambarkan minyak itu ke atas api. Api pun menari-nari di atas permukaan sendok bebek itu, membakar minyak kayu putih yang ada di atasnya. Aku meniupnya sebelum minyak itu dilahap habis oleh api.

Minyak itu menjadi hangat. Kutuangkannya di atas tatakan gelas. Sambil membawa minyak dan serbet kecil, aku masuk ke dalam kamar dimana Indah sudah menungguiku.

Indah menyambutku. Ia berdiri pelan dan membongkar handuknya, sekali lagi menanggalkan satu-satunya penutup yang membalut kehormatannya. Di bawah cahaya neon, aku memandang sejenak tubuh Indah yang berbugil ria dari atas ke bawah.

Kedua tangan Indah dibiarkannya terkulai lemas di sisi-sisi tubuhnya. Badannya yang langsing menonjolkan otot-otot perut yang terlihat membentuk. Aku menduga, Indah sangat rajin berolah raga sehingga perutnya sangat atletis.

Aku mencuri-curi pandang ke daerah paling pribadi yang oleh pemiliknya sengaja tak ditutupi apapun. Aku tak bisa melepaskan pandanganku dari kemaluannya yang tak ditumbuhi rambut itu. Belahan memeknya terlihat menonjol.

Ia membalik badannya dan merebahkan dirinya ke atas tempat tidurku. Punggung mulusnya dan pantatnya yang menyembul padat seperti menantangku. Aku membenahi celanaku sekejap mumpung Indah tak melihatnya. Batang kemaluanku begitu keras berdiri, seirama dengan nada detak jantung yang berdetak dahsyat hampir mematahkan tulang rusukku.

Tatakan gelas itu kumiringkan sedikit, membiarkan beberapa tetes minyak kayu putih mendarat lembut di punggung Indah yang putih. Lalu, aku menungganginya dengan sedikit gemetar.

Indah hanya berbaring diam. Kepalanya menoleh ke kiri dan matanya terpejam. Lalu aku mulai mengurutnya. Dua jempolku menyusuri tulang belakangnya secara berirama, mulai dari tulang ekornya, naik, dan sebelum berhenti di lehernya, kedua jempolku berpisah, menuju ke persendian lengannya. Kuulangi lagi beberapa kali.

Indah mendesah-desah mengikuti gerakan jari jemariku. Beberapa kali terdengar nafas yang ditahan dan dihembuskannya dengan perlahan.

“Kurang keras nggak, In?” tanyaku.

“Boleh lah, pak… cukup.” jawabnya sambil mengatur nafas.

Kuremas-remas pundaknya dan dengan menggunakan jempol, kuurut lehernya yang jenjang. Berulang kali, rambutnya yang basah dan lebat harus kusibakkan agar tidak mengganggu penglihatanku.

Puas dengan leher dan punggung, aku bergerilya ke daerah pantat. Pantatnya kencang sekali. Kutekan-tekan telapak tanganku di situ dan kususuri belahan pantatnya dengan menggunakan kedua jari telunjukku. Kubelah pelan-pelan dan ahhhh… lubang pantatnya menggodaku. Kutekan-tekan sedikit lubang pantat merah muda itu dan kupijat dinding-dinding otot yang mengelilinginya.

Indah menggeram. Ia menaikkan pantatnya ke atas, seolah-olah ingin agar aku mendorongnya lagi ke bawah dengan kuat. Lalu, tekanan mulai aku tingkatkan, memainkan anus itu sampai puas. Lama aku memainkan daerah itu, memijatnya dengan sentuhan jari yang kuputar-putar, sampai kuputuskan untuk menjelajahi daerah kakinya.

Libido yang sempat meninggi saat aku memijit belahan pantatnya, lambat laun mulai meredup dan Indah bisa menguasai dirinya lagi. Aku tak mau buru-buru memicu gairahnya malam itu. Betisnya yang jenjang dan tak berbulu itu kuremasnya perlahan-lahan. Hampir seluruh bagian belakang Indah berkilau terkena minyak kayu putih yang hangat.

“In, boleh bagian depanmu dipijat juga?” kataku setelah yakin tak ada bagian belakangnya yang belum kupijat.

Indah mengangguk dan ia membalik badannya yang cantik ke atas, menghadapku yang sudah siap menerkam. Kali ini, tubuh telanjangnya sudah kutunggangi.

Pertama-tama, kuurut pundak dan daerah sekitar payudara. Indah memilih untuk memejamkan matanya, menikmati dengan tekun segala pijatanku.

Aku menyenggol payudaranya pelan. Menunggu reaksinya. Sepertinya, Indah tak berkeberatan. Lalu, kedua telapak tanganku kuletakkan di atas puting merah mudanya itu, menekannya ke bawah, dan memutar telapak tangan searah jarum jam. Berkali-kali.

Indah melenguh agak keras. Kedua pahanya ia naikkan berirama. Aku meremas payudara kenyal itu naik dan turun, membuat Indah semakin bergairah. Berkali-kali ia menelan ludah dan menghisap bibir bawahnya. Nafasnya yang mulai tak teratur membuatku semakin kencang meremas payudara itu. Tangannya akhirnya mendarat di tanganku dan meremas kuat, membalas remasanku terhadap payudaranya.

Indah memandangiku dengan tajam. Bibirnya bergerak-gerak terus mengikuti irama nafasnya.

Lalu, aku menuntun tanganku ke bawah, Kuurut belahan kemaluannya. Indah mengijinkanku untuk memijat daerah itu. Selangkangannya ia belah lebar-lebar. Meki merah merekah pun terlihat di depanku. Lembab dan ranum seperti pepaya setengah matang. Kuusap-usapkan jariku ke dinding vagina itu, naik dan turun. Sesekali, kututup lubang kemaluannya, dan kubuka kembali. Indah menaik-turunkan pantatnya.

“Ooouuhhh…” desisnya mantab.

Dengan menggunakan jari telunjuk dan jempol, kurekahkan lubang itu dan memainkan jariku yang lain masuk ke dalam kemaluan yang sudah basah dan berlendir. Kugosok perlahan-lahan. Tangan Indah menyergap tanganku dan membimbingnya dengan kasar ke atas payudaranya lagi. Ia ingin aku memainkan payudara dan kemaluannya sekaligus.

Aku menjadi lebih bersemangat mendengar desahannya yang tak ada tanda-tanda mereda itu.

“Pak… Uuuuhhhh…” panggilnya dengan merintih. Matanya sayu menggemaskan. Tangannya mencoba meraih ritsliting celanaku. Tak kuhalangi usahanya itu. Satu tangan meremas payudaranya, dan satunya lagi kumemainkan lubang kenikmatannya.

Indah meraih kepala ritsliting dan berusaha menariknya ke bawah. Terpaksa, salah satu tanganku kulepas, meninggalkan payudaranya yang mengeras, dan mendekap punggung tangan Indah. Aku membantunya melepas ritslitingku ke bawah. Indah memiringkan tubuhnya dan dengan kedua tangannya, mendorong celanaku. Celana jins itu melorot ke bawah. Bulu-bulu pahaku terlihat jelas.

Aku tak bisa menyembunyikan keteganganku dari balik celana dalam putihku. Indah meraih kepala penisku walaupun masih tersembunyi di balik sempak. Aku maju mendekat. Tangannya memutari pinggangku dan berhenti di pantat.

Lantas, jari jempolnya mengait di atas kolor celana dalamku dan menolaknya ke bawah. Indah memelorotkan celana dalamku. Burungku keluar dari sarangnya, menegang dan mengacung ke depan, menantang Indah yang sudah sangat tidak sabaran. Kedua tangannya mengocok kepala penisku pelan-pelan.

Lalu, aku berinisiatif mendorong pantatku agar batang kemaluanku mendekat di wajahnya. Indah memahami isyaratku. Ia menutup mata dan membuka mulutnya pelan. Air liur yang kental membasahi bibirnya dan perlahan, ia menelan milikku yang paling pribadi. Mulutnya maju dan mundur, berusaha menelan sampai ujung tenggorokan. Aku mendesah hebat.

“Aaaaahhhhh…” kataku sambil menarik nafas panjang-panjang mengikuti gerakan mulutnya. Kulepas kaosku dan kami berdua bertelanjang bulat.

Sesekali, Indah menahan penisku dan menjaganya tetap di dalam. Tapi kurasakan, lidahnya menari-nari, memainkan kepala penisku. Dan, setelah aku menggelinjang hebat, ia menariknya lagi. Tanganku tak lepas memainkan jari-jari ke dalam kemaluannya, menjaga agar Indah tetap terangsang.

Lalu ia menjulurkan lidah dan menjilat pangkal kemaluanku. Lidahnya mengayun-ayun membasahi penisku dengan sempurna. Aku mengaduh keenakan ketika lidah itu mengusap dan memijit kepala burungku.

Puas dengan batang kemaluanku, Indah berbisik kecil. “Pak, boleh dimasukin?” tanyanya. Justru ia yang meminta ijin. Aku mengangguk kecil dan kuusap rambut basahnya itu pelan. Jarinya kulepas dan aku memutarinya.

Ia mengangkang lebar-lebar, membuka pintu kenikmatan untukku. Dan aku mendaki ke atas tempat tidur. Kupegang penisku dan kuarahkan tepat di bibir vaginanya.

Satu dorongan membuat penisku yang keras menusuk ke dalam vagina yang lembut dan basah, diiringi desahan kecil. Di dalam, penisku merasakan hawa hangat yang lembab. Basah dan licin. Kutarik pelan-pelan dan kumasukkan dengan lembut. Tubuhku kubaringkan dan dengan lidah, kugoda puting payudaranya sambil mengatur irama gerakan penisku.

Indah menggelinjang-gelinjang. Kedua tangannya memeluk pundakku dan mulai mencakar-cakar. Kuciumi payudaranya bergantian, kanan dan kiri. Sesekali kutarik puting itu dengan mulutku. Lantas, kedua kakinya menjepit betisku, membuatku mengangkang. Kedua paha kami mengangkang, saling bertumpuk, dan memudahkanku untuk mempercepat gesekan penisku.

“Uuuuuh… Ooofffffpphhh… Enak, In…” rintihku berkali-kali.

“Iya… pak…” balasnya. Suaranya yang lembut meluncur pelan di sela nafasnya. “Auuuwww… Enakk…” dia menjerit.

Setelah itu, kupelankan iramaku, perlahan-lahan dan akhirnya berhenti. Kucabut penisku dan berbaring di samping Indah. Sekarang kusuruh ia menunggangiku, memasukkan penisku dari atas. Tubuh telanjang itu kuamati, naik dan turun, mengocok batangku dengan lubangnya yang nikmat.

Indah menurunkan badannya dan menawari payudaranya yang bergoyang-goyang ke arah mulutku. Kusambut dengan sigap. Lidahku kumainkan di putingnya yang sudah basah kuyup oleh air liurku, membuatnya merintih-rintih.

“Hisap, pak…” desahnya pelan. Badan Indah yang dingin berubah menjadi hangat, menerima panas dari tubuhku. Aku merasakan titik-titik keringat di badannya. Mungkin, ia sudah tidak kedinginan lagi.

Lalu kutahan tengkuknya dan kuarahkan kepalanya agar sejajar dengan wajahku. Setelah bibir kami berhadapan, kuciuminya dengan cepat. Nafasnya jelas sekali kurasakan di permukaan wajahku. Tangannya gantian memeluk pundaknya dan Indah mengelus rambutku.

Desahannya tertahan karena bibirnya kukulum dalam-dalam. Sesekali, bibirku membentur behelnya. Namun, tak mengapa. Ada sensasi lain.

Puas dengan posisi Indah di atas, ia berdiri dan memintaku untuk berputar. Setelah aku berdiri, Indah menahan badannya dengan kedua kaki dan tangannya. Ia menungging dan menunggu tantanganku selanjutnya.

Aku membelakanginya dan memasukkan batangku lewat lubang vaginanya yang terjepit kedua pahanya, membuat penisku terjepit erat. Aku melakukan gerakan maju mundur, membasahi penisku menggunakan lendir-lendir yang keluar kencang dari kemaluan Indah. Sesekali, kulihat lubang pantatnya yang berdenyut-denyut.

“Oh… Oh… Oh…” aku menghujani ruangan dengan suara-suara desahan mantab.

Di saat menungging, Indah menggerak-gerakkan lehernya sehingga kepalanya naik dan turun. Rambutnya yang sepundak itu ia jatuhkan ke kanan sehingga lehernya yang jenjang bisa kulihat dengan jelas. Membuatku lebih merasa terhormat bisa menikmati tubuh Indah yang telanjang dan menggelinjang.

Sekilas, kulihat jam dinding. Waktu sudah semakin malam dan aku khawatir kalau-kalau Bu Irda datang tanpa diduga. Oleh karena itu, kuakhiri petualangku dengan gadis cantik ini. Indah pun sepertinya juga sudah tampak lelah walaupun wajahnya begitu menggodaku.

Aku tindih dia dan kumasukkan lagi penisku. Kali ini, kugoncangkan tubuhnya kuat-kuat lewat irama keluar-masuk batang kemaluanku. Basah sekali Indah ini.

Indah menggeram kuat, “Oooooohhhh…” dan ia menyambar leherku, mengulum bibirku dan seperti tak menginginkannya lepas dariku. Kupercepat gerakku hingga kasurku berderit-derit keras. “Ooohhh… Indah mau puas… Aaaaahhhh…” rintihnya tertahan.

Tangannya meremas punggungku dengan erat. Kukunya menancap, membuatku merasa agak sakit. Tapi kubiarkan saja. Lalu dengan dekatan yang sangat erat, Indah memelukku dan mengeram keras. “Aaaahhhhhhhhh… Hhhhmmmmmffppppppp… Hhmmpppfffff…” Nafasnya memburu, semakin tinggi, semakin cepat, dan menahannya sangat lama. Otot-ototnya menjepit seluruh badanku.

Beberapa detik kemudian, ia mengendurkan semua cengkeramannya dan terkulai. “Aaaaaaaaahhhhh…” desisnya lega.

Aku tak melepaskan batang penisku. Tetap kumainkan maju dan mundur, membuat Indah menikmati sisa-sisa kenikmatannya hingga tuntas. AKu berhenti sejenak, memberi kesempatan Indah untuk merasakan dahsyatnya permainanku. Dinding kemaluannya berdenyut-denyut seperti hendak memijat penisku yang tegang.

Lantas, setelah semenit berlalu, setelah Indah terkulai, aku mainkan lagi penisku ke dalam kemaluannya. Kali ini lebih kencang, sampai menggetarkan tubuh Indah. Lantas, sedikit demi sedikit, batang penisku mulai memanas.

Uhhh… Uhhhh… Aku merasakan sensasi hebat di ujung lubang kencingku. Ingin meledak dalam kenikmatan. Aku tetap mengayunkannya keras-keras ke dalam vagina Indah yang masih mengulum kemaluanku tanpa ampun.

Aku seperti tak tahan lagi. Sepertinya lubang kemaluanku tak bisa lagi membendung cairan yang sudah mengumpul di kepala penisku, mendorong ingin segera keluar dari testisku yang mengeras.

“Auuuhhhhh… In, sekarang giliranku…” Indah dengan wajah kelelahan, melirikku sayu. Ia tampak menyemangatiku dalam lelahnya. Lalu, setelah aku merasakan penisku yang mengeras dahsyat, kucabut cepat-cepat dan kuarahkan senjataku itu langsung di wajah Indah.

Kukocok kepala penisku keras-keras dan akhirnya, “Oooooohhhhh…” kemaluanku menyemburkan cairan kenikmatan yang putih dan kental. Indah tampak kaget tapi bisa menguasai diri. Spermaku melenting jauh, hingga ke dahi Indah, menyembur ke sana kemari. Aku tetap mengocoknya keras, seperti tak rela jika masih ada setetes sperma yang masih tertahan di tubuhku. Seluruh otot badanku mengeras. Semua cairan kumuntahkan tepat di wajah Indah yang manis.

Indah seperti tenggelam dalam cairanku yang amat banyak, melumuri hidung, bibir, dan pipinya. Indah tampak pasrah. Tak ada upaya untuk mencegahku melakukan hal tersebut. Nafasku tak beraturan dan seiring dengan tenggelamnya rintihanku di kesunyian malam itu, spermaku mulai menetes-netes teratur.

Aku masih membiarkan penisku mengeluarkan tetesan kecil. Dengan menggunakan telunjukku, kugiring sperma yang membasahi bibir Indah. Kutekan jariku yang basah oleh sperma itu ke pintu bibirnya yang terkatup. Indah membuka kecil mulutnya dan kubasuhkan jariku yang penuh lendir itu di bibirnya. Indah menghisapnya pelan.

Lalu, aku pun merebahkan dirinya di sampingnya. Mengatur nafas. Ubun-ubun kepalaku berdenyut-denyut. Sambil menelan ludah berkali-kali, kunikmati sisa-sisa kenikmatan yang masih menjalar ke seluruh tubuhku.

Aku memalingkan wajah ke samping dan mata kami saling beradu. Tak ada kata yang terucap. Tapi mata kami seolah-olah saling berbicara. “Malam yang indah…”

Indah mengambil tisu basah yang telah kusiapkan dan membasuh wajahnya sampai bersih. Aku melihat jam dan beranjak bangun.

Aku membantu Indah mengenakan kembali pakaiannya setelah ia selesai mengusap dada dan kemaluannya menggunakan tisu basah. Kupakaikan celana dalamnya dan sebelum kain itu menutupi kemaluannya, aku menciumnya kecil. Indah bergidik geli. Lalu, kami berdua pun sudah berpakaian rapi.

Kudekapkan kedua telapak tanganku ke pipi Indah dan mencium bibirnya untuk terakhir kalinya malam itu. Tak kusangka, calon bu dokter ini memiliki gairah yang nakal…

Indah tersenyum simpul.

***

Aku menggiringnya keluar rumah karena hari telah malam, sampai kubukakan pintu dan kutemukan, Bu Irda sudah tepat berdiri di teras.

“Oh, baru saja datang, Bu?” sapaku agak kaget.

“Iya, Fred. Saya terlambat karena harus ikut ke balai desa.” jawabnya. “Lho, kamu disini Indah?” tanyanya kepada Indah yang berdiri di sampingku.

“Iya, bu, tadi ngetes kamar mandinya. Ternyata sudah bisa dipakai,” katanya.

“Oow, kamu sudah pakai sumurnya?” tanya Bu Irda. “Sumur itu inisiatif mahasiswa kedokteran ini, Fred.” wajah Bu Irda berpaling padaku. Ia menjelaskan kalau para mahasiswa berinisiatif membangun sanitasi yang lebih sehat, mulai dari tempat MCK hingga sumur. “Ingat map yang saya terima tadi siang, waktu kita mengobrol di selasar? Itu proposal, Fred… lokasi-lokasi MCK yang ingin dibangun.”

Ya, aku ingat siang tadi. Seorang mahasiswa menyodorkan map warna hijau kepada Bu Irda. “Ayo, sekarang kita ke bukit dan melihat tempat-tempat yang mereka bangun. Kamu mau ikut, Indah?” tanya Bu Irda.

“Hmm… sepertinya Indah mau istirahat saja, bu.” jawabnya kalem.

Wajah imut Indah berusaha menyembunyikan rahasia kami berdua di hadapan Bu Irda. Aku melirik dan tersenyum sewaktu ia membalas lirikanku.

“Oh, kalau begitu, kita nanti menghantarmu pulang. Kebetulan, rutenya sama.” Bu Irda menjelaskan. Dia tampak tidak curiga. Sepertinya, ia menganggapku orang yang profesional. “Okelah, ayo kita pergi. Keburu malam.”

Kami bertiga pun mengekor Bu Irda, ke tempat yang telah disiapkannya untukku. Bu Irda memimpin langkah kami. Aku menggandeng kecil tangan Indah. Indah hanya tersenyum kecil dan mengikuti langkahnya.

Indah, di balik kewibaanmu ketika mengenakan jas dokter, ternyata kamu nakal, geliku dalam hati. Aku melihat arloji. Pukul 8 malam.

Hmm, kejutan apa lagi yang akan aku terima? Sebelum pukul 24.00 malam, keberuntunganku pasti belum memudar.

Hatiku mulai menebak-nebak.

Author: 

Related Posts