Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 46

Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 46by adminon.Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 46Pendekar Naga Mas – Part 46 Ketika Cau-ji mendusin dari pingsannya, ia mendengar suara derap kaki kuda yang kencang disertai tubuhnya yang bergoncang, ia tahu dirinya pasti berada dalam kereta kuda yang sedang dilarikan kencang. Pemuda itu membuka mata untuk memeriksa. Mendadak terdengar suara merdu bersorak kegirangan, Toaci, Jici, dia telah mendusin!” Sekilas pandang Cau-ji […]

multixnxx-Please use the rear access! -3 multixnxx-Please use the rear access! -4 multixnxx-Random goodies (2) -9Pendekar Naga Mas – Part 46

Ketika Cau-ji mendusin dari pingsannya, ia mendengar suara derap kaki kuda yang kencang disertai tubuhnya yang bergoncang, ia tahu dirinya pasti berada dalam kereta kuda yang sedang dilarikan kencang.

Pemuda itu membuka mata untuk memeriksa.
Mendadak terdengar suara merdu bersorak kegirangan, Toaci, Jici, dia telah mendusin!”
Sekilas pandang Cau-ji segera kenal nona yang berbicara itu tak lain adalah gadis bugil yang ditemukan dalam ruang rahasia itu, baru saja akan buka suara, tiba-tiba dilihatnya dua lembar wajah yang berseri telah muncul di hadapannya.

Tak tahan dia pun tertegun.
Terdengar nona di sebelah kiri yang masih kekanak-kanakan berseru sambil tertawa, “Kongcu, kau tak menyangka bukan!”
Cau-ji segera mengenali sebagai suara nona berbaju putih, seakan baru sadar akan sesuatu, teriaknya, “Oh, rupanya kalian sedang menyaru, tapi kenapa mesti berdandan begitu jelek seperti wajah setan?”
“Hahaha, bukankah kita bisa menghindari banyak kesulitan?”
“Ah, betul juga, dengan tampang sejelek itu, memang banyak kesulitan bisa dihindari. Tapi tahukah kau, ada berapa banyak manusia yang terkencing-kencing gara-gara melihat tampang
seram kalian?”

Habis berkata, kembali ia tertawa tergelak sambil berduduk.
Di hadapannya duduk tiga nona yang mengenakan pakaian warna hitam, putih dan kuning, saat ini mereka telah tampil dengan wajah aslinya, ternyata ketiga nona itu memiliki wajah yang amat cantik.

Dipandang secara begitu, merah padam wajah ketiga gadis itu, tanpa terasa kepalanya ditundukkan rendah-rendah.
Diam-diam Cau-ji mencoba membandingkan wajah ketiga nona itu dengan dua bersaudara Suto, enci Jin dan enci Ing. Terasa wajah nona-nona ini tak kalah dengan kecantikan gadis-gadis koleksinya.

Sementara keempat orang itu masih termenung, mendadak terdengar ringkikan kuda memecah kesunyian disusul kereta itu berhenti secara mendadak.
Tak ampun keempat orang itupun jatuh berguling dan bertumpukan jadi satu.

Tergopoh-gopoh Cau-ji merangkak bangun dan membuka tirai sambil melongok ke depan.
Ternyata ada lima lelaki kekar bersenjata pedang telah menghadang jalan pergi mereka.
Waktu itu si kusir sudah ketakutan setengah mati, bukan cuma badannya menggigil, bibirnya yang gemetar pun tak sanggup berkata-kata.

Terdengar salah seorang lelaki kekar itu menghardik, “Ayo, semua penumpang kereta segera menggelinding ke hadapan Toaya!”
Begitu melihat tampang kelima orang itu, Cau-ji segera tahu mereka adalah kawanan pencoleng, diam-diam ia tertawa dingin.
Mendadak pemuda itu tertawa tergelak, serunya keras, “Turut perintah!”

Begitu tirai dibuka, tubuhnya bagaikan sebuah roda kereta dengan cepat menggelinding keluar.
Selama hidup belum pernah kelima orang itu menyaksikan kungfu seaneh ini, baru saja menjerit kaget sambil berusaha menghindar, salah seorang lelaki kekar itu sudah terhantam dadanya oleh sapuan kaki Cau-ji

Terdengar ia menjerit kesakitan, sambil muntah darah tubuhnya mencelat sejauh beberapa tombak.
Keempat rekannya jadi ketakutan setengah mati, baru saja siap melarikan diri, terdengar Cau-ji kembali membentak keras, “Enyah!”

Ternyata keempat orang itu penurut sekali, tanpa banyak bicara serentak mereka melarikan diri terbirit-birit.
Tinggal lelaki yang terluka parah menjerit keras, “Aduuh … sakitnya … eeei … kalian jangan tinggalkan aku sendirian!”
“Enyah!” kembali Cau-ji menghardik.

Orang itu mengiakan berulang kali dengan ketakutan, akhirnya sambil menahan sakit dia kabur dari situ.
Sambil tertawa terbahak-bahak Cau-ji balik ke samping kereta, belum sempat berbicara, kusir kereta itu telah berseru dengan gemetar, “Kongcu, di sini banyak begalnya, hamba takut, ingin balik saja.”

Cau-ji tidak mengira kusir itu kecil nyalinya, setelah tertegun sejenak, ujarnya sambil tertawa,
“Datang pasukan kita hadang, datang air bah kita bendung, selama ada Kongcu di sini, apa lagi yang ditakuti?”
“Tapi hamba masih mempunyai ibu berusia delapan puluh tahun, istriku masih muda, Kongcu, kalau sampai terjadi sesuatu, bagaimana dengan mereka?”
“Baiklah!” sahut Cau-ji kemudian setelah berpikir sebentar, “cuma kau harus menyerahkan kereta kuda ini kepadaku.”
“Tapi… bagaimana dengan ganti ruginya?”
“Hahaha, gampang sekali, waktu beli dua ekor kuda dan kereta, kau habis uang berapa banyak?”
“Baik, coba aku hitung dulu!”

Dengan susah payah akhirnya dia berhasil menemukan sejumlah angka, maka serunya,
“Kongcu, jumlah seluruhnya adalah tiga puluh satu tahil empat renceng
“Hahaha, bagus, bagus sekali” tukas Cau-ji sambil tergelak, “kalau begitu bagaimana kalau Kongcu bayar kereta dan kudamu seharga lima puluh tahil perak?”

“Lima puluh tahil perak? Sungguh? Bagus, bagus, bagus sekali!”
Baru saja Cau-ji akan merogoh sakunya untuk mengambil uang, nona berbaju putih itu telah menyodorkan selembar uang kertas kepada kusir itu.

Begitu melihat nilai nominal di atas uang kertas itu, kusir itu segera menjerit kegirangan, “Wow, seratus tahil perak … wah, terima kasih, terima kasih sekali.”
“Hahaha, pergilah membeli sebuah kereta baru yang lebih mewah,” kata Cau-ji sambil tertawa.
“Baik, terima kasih, terima kasih.”

Menanti Cau-ji siap melompat naik ke atas kereta untuk menjadi kusir, terdengar nona berbaju
hitam berseru, “Kongcu, silakan masuk untuk berunding sebentar.”
Setelah masuk ke ruang kereta, Cau-ji memandang sekejap semua nona itu sambil tersenyum,
kemudian baru bertanya, “Nona, ada urusan apa?”
“Kongcu, kami ingin menuju ke kota Lok-yang, apakah kau tahu jalan?” tanya nona berbaju hitam.
“Belum pernah ke sana, tapi kita toh bisa bertanya,” sahut Cau-ji sambil tertawa getir.

“Kongcu, selama ini kita senasib sependeritaan, aku lihat dalam beberapa hari belakangan terjadi pergolakan besar dalam dunia persilatan, lebih baik sepanjang perjalanan kita bertindak lebih berhati-hati.”

“Adik Lian lebih mengenal jalanan serta situasi di kota seputar Lok-yang, lagi pula dia kaya akan pengalaman dunia persilatan, sementara waktu biar dia saja yang membawa kereta, sementara Siaumoay merundingkan beberapa persoalan lagi dengan lainnya.”

“Bagus sekali kalau begitu,” seru Cau-ji sambil tertawa.
Nona berbaju putih manggut-manggut, sambil membawa buntalan dia keluar dari ruang kereta.
Tak lama kemudian di tempat duduk kusir telah muncul seorang lelaki berbaju abu-abu, terdengar lelaki itu berseru, “Tuan-tuan, kereta segera berangkat!”
Habis berkata dia pun tertawa cekikikan dan mulai menjalankan kereta.
“Mirip benar penyaruannya,” puji Cau-ji sambil menghela napas.
“Ah, hanya ilmu cetek, Kongcu tak usah memuji.”
“Nona kelewat sungkan. Ah benar, maaf Cayhe tak sopan, boleh tahu apa tujuan nona pergi ke Lok-yang? Mau berpesiar, ziarah atau menengok famili?”
Nona berbaju hitam tertawa.
“Semuanya bukan. Keluarga kami memang tinggal di kota Lok-yang, aku she Cu bernama Bi-ih, dia adalah adik bungsuku, Bi-hoa, sedang Toamoay bernama Bi-lian. Saat ini sedang menjadi kusir. Kami merasa berterima kasih sekali atas pertolongan Kongcu.”

Melihat pihak lawan begitu supel, bahkan langsung memperkenalkan diri, maka secara ringkas Cau-ji pun memperkenalkan diri.
Betapa terkejut dan girangnya Cu Bi-ih dan Cu Bi-lian ketika tahu bahwa pemuda tampan berilmu tinggi ini tak lain adalah putra Ong Sam-kongcu yang amat tersohor di dunia persilatan.

Tiba-tiba terdengar Cu Bi-lian yang berada di luar kereta berseru dengan nada nyaring, “Cici, dugaanku tidak salah bukan? Ningrat!”
Merah jengah wajah Cu Bi-ih, bentaknya cepat, “Konsentrasi mengendalikan kereta!”
“Iya, benar, ningrat!”
“Eeei, nona, apa yang ditebak adikmu?” tanya Cau-ji keheranan.

Saking malunya Cu Bi-ih jadi tergagap hingga tak sanggup berkata-kata.
Dalam pada itu Cu Bi-hoa telah berkata pula sambil tertawa, “Ong-kongcu, Jici bilang ditinjau dari wajah dan ilmu silat yang dimiliki, sudah jelas kau mempunyai asal-usul yang luar biasa, tapi Toaci beda pandangannya, jadi kami bertaruh!”
“Oh. Bertaruh apa?”
Baru saja Cu Bi-hoa akan menjawab, buru-buru Cu Bi-ih menjerit, “Adik!”
Cu Bi-hoa segera membuat muka setan dan tak berani melanjutkan kembali kata-katanya. Cau-ji tahu, orang lain merasa tidak leluasa untuk menjawab, lalu kenapa dia harus mendesak terus? Maka kembali tanyanya kepada Cu Bi-hoa, “Nona, bagaimana ceritanya hingga kau terjatuh ke tangan orang?”

Mendengar pertanyaan itu, kemudian terbayang kembali bagaimana tubuhnya yang telanjang bulat telah dipandang anak muda itu sampai kenyang, merah padam wajah Cu Bi-hoa karena malu, untuk sesaat dia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Melihat itu buru-buru Cu Bi-ih menyela sambil tertawa, “Kongcu, selama ini Siaumoay selalu hati-hati, sayang sedikit kurang hati-hati hingga dia dipecundangi orang-orang Jit-seng-kau, masih untung kau datang tepat waktu dan menolongnya, kalau tidak, entah bagaimana akibatnya!”

“Lagi-lagi perbuatan Jit-seng-kau!” seru Cau-ji gemas.
Cu Bi-ih jadi keheranan, tanyanya, “Kongcu.kalau kau memang begitu benci pada Jit-seng-kau, kenapa bisa masuk keluar kantor penghubung mereka waktu di kota Bu-jang?”

Berhubung Cau-ji belum tahu secara pasti asal-usul ketiga nona itu, maka sahutnya, “Aku sama sekali tidak tahu kalau rumah makan itu merupakan salah satu sarang Jit-seng-kau, untung nona Lian memancingku keluar, kalau tidak, pasti diriku sudah mereka bokong!”

“Sebetulnya semua peristiwa ini hanya kebetulan,” kata Cu Bi-ih sambil tertawa, “andaikata adik Lian tidak melihat pedang pembunuh naga yang kau gembol, tak nanti kami mencarimu, seandainya tidak menemukan dirimu, nasib Siaumoay pun pasti sangat tragis.”
Habis berkata, kedua nona itu kembali memandang Cau-ji dengan mata berkilat.

Cau-ji pernah menjumpai sorot mata semacam ini di wajah Suto bersaudara, tentu saja dia tak berani mencari “gara-gara” lagi, sambil mengalihkan pokok pembicaraan, tanyanya kemudian, “Nona, kenapa kau bisa menguasai ilmu pedang pembunuh naga?”

Mula-mula Cu Bi-ih agak tertegun, kemudian jawabnya, “Sejak kecil aku suka membaca buku dan pernah membaca tentang ilmu pedang ini, menurut apa yang kuketahui, pada sarung pedangnya tertera jurus pedang itu secara utuh.”

“Oya? Kalau begitu jika ada waktu senggang, pasti akan kuperiksa.”
“Kongcu,” kembali Cu Bi-ih berkata sambil tertawa, “bolehkah aku bertanya tentang satu hal, mengapa kau kebal racun?”
“Ooh, karena aku pernah makan pil naga sakti berusia seribu tahun.”
“Jadi benar-benar ada naga sakti berusia ribuan tahun,” berkilat sepasang mata gadis itu.
Cau-ji manggut-manggut, secara ringkas dia pun bercerita tentang pengalamannya berduel melawan naga seribu tahun.
Selesai mendengar kisah itu, Cu Bi-lian segera berteriak, “Kongcu, hokkimu memang luar biasa.”
“Benar juga,” sahut Cau-ji sambil tertawa, “padahal kalau membayangkan kembali, hatiku masih terasa takut. Naga sakti berusia seribu tahun ini besar dan garang, setiap kali dia membalik badan, terciptalah gelombang ombak maha dahsyat di seluruh permukaan telaga itu.”
“Kongcu, apakah bangkai naga sakti berusia seribu tahun itu masih ada?” Cau-ji menggeleng.
“Aku sendiri pun kurang tahu karena waktu itu aku kabur melalui lorong bawah tanah. Saat itu terjadi gempa dahsyat, gunung batu berguguran, kemungkinan besar bangkai naga itu sudah
tenggelam ke dasar telaga
“Wah, sayang sekali” seru Cu Bi-ih gegetun, “coba kalau bangkai naga itu diawetkan, lalu dipamerkan ke khalayak ramai.alangkah indahnya saat itu.”
“Benar,” seru Cu Bi-hoa pula, “ayah Baginda….”

Mendadak Cu Bi-ih berdehem sambil buru-buru menukas, “Kongcu, ternyata kau punya pengalaman sehebat itu, tak aneh kawanan ular berbisa itu tak berani mendekatimu, bahkan kawanan lebah beracun pun tak bisa berbuat banyak terhadapmu.”

Dari perubahan mimik muka kedua gadis itu, Cau-ji segera tahu kalau di balik semua itu masih tersimpan latar belakang yang luar biasa, khususnya panggilan “ayah Baginda”, jelas panggilan itu penting sekali artinya, hanya saja tak sampai dikemukakan.

Maka sambil tertawa getir, ujarnya, “Sungguh tak kusangka lebah beracun itu bisa berlagak mati agar bisa membokong, wah … sengatannya sakit sekali.”
“Lebah terakhir kan ratu lebah,” kata Cu Bi-ih sambil tertawa, “sudah hampir setengah harian kau tak sadarkan diri, coba kalau tidak keburu mendusin, mungkin adik kecil bisa menangis sedih.”
“Toaci, kenapa kau bilang begitu?”
“Tapi kan kenyataan.”
“Betul,” sambung Cu Bi-lian pula sambil tertawa,
“aku bersedia menjadi saksi.”
“Kalian jahat semua … sebentar akan kulaporkan kepada ayah ..seru Cu Bi-hoa manja.

Gelak tertawa pun bergema.
Sesaat kemudian kembali Cu Bi-ih berkata, “Kongcu, cobalah kau pelajari jurus pedang yang berada di sarung pedang itu, kami tak akan mengganggumu!”

Selesai berkata dia pun memejamkan matanya.
Cau-ji pun mengambil sarung pedang pembunuh naga dan mulai meneliti dengan seksama, betul saja, di kedua belah sisi sarung pedang penuh terukir tulisan kecil, isinya tak beda jauh dengan apa yang pernah diajarkan Cu Bi-ih tadi.

Cau-ji terpekur beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia mulai berseri, jelas pemuda ini kembali berhasil memahami rahasia jurus pedang itu.
Akhirnya dia menyimpan kembali pedangnya dan mulai memejamkan mata sambil berpikir.
Tanpa terasa dia pun terlelap dalam konsentrasinya.

Tak lama kemudian ketiga orang yang berada dalam kereta telah terkonsentrasi dalam semedinya.
Setengah jam kemudian mendadak terdengar suara derap kaki kuda bergerak mendekat, lalu terlihat seekor kuda melintas secepat kilat.
Di saat lewat di samping kereta, tiba-tiba orang itu mengayunkan tangan kanannya, kemudian dengan cambuknya dia singkap tirai di depan jendela kereta.

Tak terlukiskan rasa gusar Cu Bi-lian, baru akan turun tangan, satu ingatan segera melintas, maka dengan berlagak kaget bercampur gugup, dia menyingkir ke samping.

Sewaktu kain tirai tersingkat oleh pecut tadi, kuda itu sudah melintas sejauh lima-enam depa.
Terdengar orang itu tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha, dua nona yang cantik sekali, sayang Toaya masih ada urusan penting!”

Jelas maksudnya, dia merasa sayang karena tak bisa menjamah gadis-gadis itu.
Cau-ji membuka mata sambil memandang keluar, terlihat lelaki itu berusia tiga puluh tujuh delapan tahun, mukanya hitam keabu-abuan, sebuah codet bekas bacokan golok sepanjang beberapa senti terpampang di pipi kirinya.

Memandang hingga bayangan punggung lelaki itu hilang dari pandangan, Cau-ji berbisik lirih,
“Nona Lian, bagus sekali sandiwaramu, Cuma kau jadi ikut tersiksa.”
“Sungguh mengecewakan, aku hampir saja turun tangan,” sahut Cu Bi-lian tertawa.

Kembali cambuknya diayunkan ke depan, kereta itupun bergerak semakin cepat menuju ke depan.
Sepanjang perjalanan, mereka berusaha menyembunyikan identitas, maka ketika menjelang senja, tibalah mereka di sebuah kota.
Ketika kereta sudah berhenti di depan sebuah rumah penginapan besar, C u Bi-lian baru menghembuskan napas lega.

Seorang pelayan segera menyambut kedatangan mereka sembari menyapa, “Toaya, apakah akan menginap? Kami mempunyai kamar yang bersih ….”
Mendadak terdengar suara derap kaki kuda bergema mendekat, lalu terdengar seseorang dengan suara parau berteriak, “Ada kamar?”

Belum sempat pelayan itu buka suara, Cu Bi-lian sudah menyahut duluan, “Baiklah, kami ambil kamar itu!”
Baru selesai dia berkata, dua ekor kuda telah berhenti di depan rumah penginapan.
Orang yang berada di depan adalah lelaki berwajah hitam keabu-abuan, dia tak lain adalah lelaki bercodet yang dijumpai di tengah jalan tadi, sedangkan di sampingnya adalah seorang lelaki bertubuh pendek.

Cu Bi-lian langsung mengernyitkan dahi begitu melihat tampang kedua orang ini.
Terdengar lelaki bercodet itu tertawa tergelak, katanya, “Hahaha, sangat kebetulan. Eei, pelayan, cepat urus kuda Toaya dan siapkan juga hidangan

Melihat tampang kedua tamunya yang garang, pelayan itu tampak ketakutan, buru-buru sahutnya, “Maaf Toaya, kamar kami tinggal satu dan kebetulan sudah diambil tamu itu!”
Lelaki itu kontan mendelik dan siap mengumbar amarah.

Tapi si pendek yang berada di belakangnya segera mencegah, tukasnya, “Kalau memang di sini sudah tak ada kamar lagi, kita tak boleh mamaksakan kehendak, ayo pergi saja.”
Habis berkata, dia langsung naik kembali ke atas kudanya dan berlalu dari situ.

Menanti kedua orang itu sudah pergi jauh, pelayan itu baru berpaling ke arah Cu Bi-lian sambil menggerutu, “Tahukah kau, caramu bicara yang acuh tak acuh nyaris membuat aku kena gebuk!”
“Maaf!” senyum Cu Bi-lian sambil melompat turun dari kereta kuda.

Baru saja pelayan itu akan mengomel lagi, tiba-tiba matanya jadi berkilat.
Ternyata tirai kereta telah disingkap dan muncullah Cau-ji yang tampan dan gagah.
Disusul kemudian dua bersaudara Cu yang cantik jelita pun turun dari dalam kereta.

Buru-buru pelayan itu tutup mulut dan segera mengajak ketiga orang itu menuju ke dalam penginapan.

Author: 

Related Posts