Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 5

Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 5by adminon.Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 5Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 5 Sebuah Rencana ~~~oOo~~~ “Menurut kamu Bimo ama Arimbi itu gimana Wan?” Tanya Revan sambil menyesap kopi hitam bikinan Wanda. “Tau deh.” Sahut Wanda sambil sedikit mengangkat bahu. “Aku bingung ama tu bocah dua.” Revan menghela nafas panjang sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. “Dari gelagatnya gitu, […]

tumblr_nynl2eS5E91ux0cnno2_1280 tumblr_nynl2eS5E91ux0cnno3_1280 tumblr_nynl2eS5E91ux0cnno4_1280Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 5

Sebuah Rencana

~~~oOo~~~
“Menurut kamu Bimo ama Arimbi itu gimana Wan?” Tanya Revan sambil menyesap kopi hitam bikinan Wanda.

“Tau deh.” Sahut Wanda sambil sedikit mengangkat bahu.

“Aku bingung ama tu bocah dua.” Revan menghela nafas panjang sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. “Dari gelagatnya gitu, tapi tiap di tanya jawabannya gitu juga.”

“Maksud kamu?” Wanda menatap wajah Revan. Dari kerutan di dahinya, terlihat jelas Revan sedang memikirkan sesuatu.

“Kalau kita tes aja mereka gimana?” Ujar Revan kemudian. Wanda semakin tajam memandang Revan. Dia masih belum mengerti dengan maksud mengertes itu. “Udah… pokoknya kamu ikut.” Sambungnya sambil kemudian mendial sebuah nomor.

“Hallo Ndri… kamu di mana?”

“—”

“Ngumpul di cafe biasa yuk?”

“—”

“Eh jangan lupa bawa Septi sekalian… Ni aku lagi ama Wanda.”

“—”

“Ya udah, nggak pakek lama ya. Ni daku langsung meluncur.”

Selesai menutup telefon, Revan dan Wanda langsung meluncur di cafe tempat biasa mereka nongkrong. Tak berapa lama kemudian mereka sampai di tempat itu, pas barengan dengan Andri dan Septi yang juga baru sampai.

“Jiah… Kirain dah nyampe.” Sapa Revan sambil memarkirkan motornya di parkiran.

“Ya kan Diajeng Wanda pakek dandan dulu gaes.”

Mereka berempat kemudian masuk ke cafe itu. Hari ini suasana cafe sedikit agak sepi. Hanya ada beberapa orang yang asik nongkrong sambil berWifi-an ria. Setelah memilih tempat yang nyaman, mereka langsung memesan minuman.

“Kamu mau pesan apa Ndri?” Tanya Septi sambil membolak-balik daftar menu.

“Biasa ajalah.”

“Kalian?” Lanjutnya sambil menatap Wanda dan Revan bergantian.

“Sama ajalah, biar kompak.” Jawab Wanda.

Sambil menunggu pesanan mereka datang, Revan mulai mengutarakan maksudnya. Sementara Revan sibuk menjelaskan, Wanda, Andri, dan Septi hanya bisa melongo sambil saling berpandangan. Setelah panjang lebar, akhirnya Wanda, Andri, dan Septi mulai mengerti.

“Bagus juga ide mu Van. Terus kapan kita eksekusi.” Sahut Andri setuju.

“Ya tergantung Nyonya-nyonya, bisanya kapan.”

Sejenak Wanda dan Septi saling berpandangan. Walau ide Revan agak-agak konyol, tapi Wanda setuju. Sementara Septi? Pacar Andri itu sedikit agak ragu untuk menyetujui rencana itu.

“Gimana ya?” Ucap Septi setengah bingung. “Kayaknya gimanaaa gitu. Itu kan urusan mereka. Nggak sopan juga kan kita nyampurin urusan mereka.”

“Iya juga sih sebenernya Sep.” Andri mengusap punggung tangan pacarnya itu. “Tapi sebagai sahabat kita juga pengen kepastiannya. Bisa saja mereka itu saling suka tapi sama-sama malu buat ngungkapinnya. Kita nggak ada niat jahat kok. Kita cuma mau mereka jujur dan merek bahagia, itu aja.”

“Iya Sep. Beneran deh… Kita nggak ada niat jahat kok.” Sambung Wanda meyakinkan.

“Tapi kan?” Bagaimanapun juga, Septi tetap masih ragu. Ide itu terlalu gila dan berbahaya. Dia takut kalau sampai salah dan di luar kendali.

“Tenang aja Sep… Aku udah pikirin mateng kok rencana ini. Dan apapun hasilnya nanti, yang jelas kita sudah berusaha, demi sahabat kita.” Imbuh Revan.

Walau masih ragu, akhirnya Septi mengangguk setuju. Semoga saja rencana itu berhasil, karena dalam hati dia sendiri juga penasaran dengan Bimo dan Arimbi. Gosip mereka sudah terlalu melegenda, dan dia juga ingin tau kepastiannya seperti apa.

oOo
Sementara itu di rumah Arimbi. Bu Hana sedang sibuk memasak di dapur untuk makan malam keluarganya. Pesanan bawang goreng suaminya membuatnya sedikit kerepotan. Sementara Bu Hana sibuk sendiri di dapur, Arimbi malah asik bermain handphone sambil menonton tivi. Bocah itu sama sekali tidak perduli dengan kerepotan Ibunya.

“Iya ih… genit amat.” Tulis Arimbi membalas bbm dari Bimo.

“Rim…” Panggil Bu Hana dari dapur.

Arimbi seperti tidak mendengar panggilan Ibunya itu. Dia masih terus saja asik dengan handphonenya. Sepasang jempolnya lincah menari di atas layar sambil senyam-senyum sendiri.

“Rim!” Teriak Bu Hana gemas.

“Iya iya…” Dengan malas Arimbi menjawab sambil berjalan ke dapur menghampiri Ibunya. “Ada apa sih Buk?” Tanyanya kemudian sambil terus asik dengan handphonenya. Sepasang jempolnya masih lincah mengetik sesuatu.

“Kamu ini!” Sambil merengut kesal Bu Hana merebut handphone itu dari tangan Arimbi.

“Buk… Buk…”

“Handphone Ibuk sita!”

“Tapi Buk?”

“Nggak pakek tapi-tapian.” Bu Hana mematikan dan kemudian memasukkan handphone Arimbi ke dalam saku celemek yang di pakainya. “Kamu bantuin Ibuk sekarang.”

“Yaaa… Arim kan nggak bisa masak Buk.”

“Ya makanya kamu belajar.”

“Capek Buk.”

“Capek-capek. Kalau main hape aja nggak ada capeknya. Kamu ini cewek loh, calon istri, calon ibu rumah tangga.”

“Itu sih Arim juga tau Buk.” Sahut Arimbi sambil cemberut.

“Lha kalau udah tau makanya belajar dari sekarang, bukannya tiap hari main handphone terus kayak gitu.”

“Belajarnya ntar aja napa Buk, jadi istrinya juga masih lama ini.”

“Kamu ini kalau di bilangin bantah aja.”

“Lah… emang iya kan? Arim kan masih 17 tahun gitu, masih lama juga nikahnya. Ntar kan masih kuliah, habis itu kerja dulu cari pengalaman, masih…”

“Udah jangan banyak bantah.” Bu Hana meraih celemek yang tergantung dan melemparkannya ke arah Arimbi. “Pakek itu terus bantuin Ibuk, kalau nggak uang jajan juga Ibuk sita. Mau?!”

“Eeeeeeh!” Arimbi menggeram geregetan.

“Kalau masih kurang, laptop juga Ibuk sita.” Tambah Bu Hana sambil tersenyum.

“Ah Ibuk kenapa sih?”

“Cepetan!”

Sambil merengut Arimbi terpaksa memakai celemek itu dan membantu Ibunya di dapur. Bagi Arimbi, bergelut dengan bumbu dan segala tetek bengek dapur adalah bencana. Belum apa-apa jari Arimbi sudah teriris pisau. “Aaow!”

“Kenapa Rim?”

Sambil meringis perih, Arimbi menunjukkan ujung jari telunjuknya yang berdarah.

“Halaah… Luka gitu aja nangis. Udah, terusin lagi itu ngupas bawangnya. Terus abis itu langsung kamu goreng. Ayahmu paling demen tu ama ba…”

Belum selesai Ibunya berbicara, Arimbi langsung berlari ke westafel dan mencuci muka. Dia sudah tidak tahan lagi, matanya sudah bengkak dan perih.

“Gimana rasanya, seru kan?” Ujar Bu Hana sambil tersenyum senang. Untuk belajar sesuatu memang perlu pengorbanan, dan teriris pisau adalah salah satunya.

“Seru dari hongkong.” Sahut Arimbi merengut sambil melepas celemek dan menggeloyor masuk ke kamarnya.

“Lah… Belum kelar kok malah pergi?”

“Bodo!”

“Ya udah kalau gitu, laptop balikin ke kamar Ibuk.”

Bruagh!

Bu Hana hanya bisa menggeleng kepala. Arimbi memang terlalu manja untuk melakukan perkerjaan rumah seperti ini. Tapi bagaimanapun juga, Arimbi harus di latih mulai dari sekarang, sebelum nanti terlambat.

Sementara itu di dalam kamarnya, Arimbi kebingungan bagaimana mengobati perih di matanya. Obat tetes mata juga tidak berhasil, dan sekarang matanya malah semakin bengkak seperti baru menangis. Aaaaaaaaaah!

oOo
“Ini bocah kemana sih?” Runtuk Bimo sambil bolak-balik mengecek handphonenya. Beberapa kali Bimo berusaha menghubungi, tapi handphone Arimbi sedang tidak aktif.

Bimo ingin kerumah Arimbi, mengecek sedang apa gadis itu sampai tumben tidak bisa di hubungi. Tapi mengingat ini tanggal muda dan waktunya menerima jatah uang saku, Bimo akhirnya memilih mengurungkan niat itu.

Isi dompetnya sudah sekarat berdarah-darah, hanya tinggal menyisakan tiga lembar Patimura dengan menghunus golok tajamnya. Kalau tidak cepat-cepat di isi dengan lembaran Soekarno-Hatta, bisa-bisa Patimura memberontak dan menusuk bokongnya dengan golok.

Bruuuum…

“Akhirnya datang juga.” Bimo tersenyum senang mendengar suara mobil Ayahnya. Suara mobil itu menandakan uang saku semakin mendekat. Hanya tinggal menunggu Ayahnya mandi, makan malam, dan setelah itu 40 lembaran merah jatuh ketangannya.

Eh lupa… 20 lembar ding. Kan di potong separuh.

“Ini uang saku kamu.” Kata Bu Sriati sambil menyerahkan jatah uang saku Bimo.

Bimo sedikit mendelik heran sambil perlahan menerima uang itu. “Kok segini?” Protesnya mendapati jatahnya bulan ini semakin tipis.

“Ya kan emang segitu.”

“Yah…” Bimo balik menatap Ayahnya yang sedang asik menikmati secangkir kopi. “Kok segini doang Yah?”

“Ya emang segitu.”

“Kan katanya di potong separuh?” Bolak-balik Bimo menghitung uang yang di berikan Ibunya. 10 lembar. Masih kurang 10 lembar lagi dari jatah seharusnya.

“Ya itu separuhnya.” Jawab Pak Edi santai sambil membawa kopinya ke depan tivi.

“Ya separuh itu berarti 2 juta dong Yah.” Protesnya sambil menyusul Ayahnya.

“Siapa bilang?”

“Kan… Kata Ayah kemarin di potongnya separuh.”

“Ya itukan separuhnya.” Pak Edi memindah-mindah chanel tivi mencari acara yang enak untuk di tonton.

“Kurang.”

Pak Edi tersenyum. “Emang biasanya berapa?”

“4 juta kan.”

“Separuhnya berapa?”

“2 juta.”

“Nah… separuhnya lagi berapa?”

“Sejuta.” Jawab Bimo lemah.

“Nah itu tau.”

“Tapi kan perjanjian bukan separuhnya separuh Yah.”

“Kalau nggak mau sini, balikin.” Putus Pak Edi.

Njier! Tidak salah kalau kata Bimo Ayahnya adalah manusia paling kejam di muka bumi ini. Manusia paling tidak mengerti prikeanakmudaan. Dan benar saja, Pak Edi lebih memilih menonton Jodha Akbar dari pada harus meladeni rengekan Bimo memprotes uang sakunya.

“Buuuk…” Gagal merayu Ayah, Bimo berbalik merajuk ke Ibunya. Namanya juga usaha. Siapa tau Ibunya yang bawel itu mau berbaik hati menambahi uang sakunya.

“Apa?” Sahut Bu Sriati ketus sambil sibuk membolak-balik katalog Shopie-Paris.

“Tambahin.”

“Tambahin?” Bu Sriati mendelik. “Enak aja.”

“Ya kalau segini mana cukup.”

“Ya di cukup-cukupin lah.”

“Yaelah Ibuk.”

“Kok yaelah?” Bu Sriati terus saja sibuk dengan katalognya. “Yah… Kebaya ini bagus nggak Yah?” Ujarnya sambil menunjukkan gambar kebaya di katalog itu. “Ibuk pengen yang kayak gitu tapi payetnya nggak yang gitu. Kayaknya pas itu di paduin ama jarik yang kemarin Ibuk beli.”

“Aaah!” Bimo menggeram kesal karena di acuhkan. Ayahnya lebih asik dengan Jodha Akbar, sementara Ibuknya asik dengan katalognya. Dan yang bikin Bimo tambah kesal, Ibuknya vs katalog adalah sama dengan besok shoping. Nyebelin kan?

Dalam hati sebenarnya Pak Edi dan Bu Sriati tidak tega memotong uang saku Bimo sesadis itu. Tapi apa boleh buat, Bimo sudah dewasa. Dia harus belajar menghargai uang mulai dari sekarang sebelum terlambat. Kalau tidak, masa depan Bimo nanti yang jadi taruhannya.

“Sayang anak itu bukan di manjain selalu ini itu di turutin. Kadang apa yang oleh anak di pikir kejam, itu adalah cara orang-tua mendidik untuk kebaikan anak itu sendiri.”

“Ya kalau nggak cukup ya kamu kerja Bim.” Ujar Pak Edi sebelum Bimo menutup pintu kamarnya.

~~~oOo~~~
Pagi ini langit begitu cerah, tapi suasana hati Bimo dan Arimbi tak secerah langit pagi ini. Suasana hati mereka mendung kelabu menjurus hujan badai. Arimbi mendung karena kehilangan handphone dan harus belajar pekerjaan rumah. Dan Bimo kelabu karena uang sakunya tinggal 10 lembar. Tragis.

“Semalam kemana?” Tanya Bimo sambil meletakkan segelas Jas-Jus di depan Arimbi.

“Lha kamu sendiri kemana?” Sahut Arimbi balik bertanya.

“Lah…” Bimo mengerutkan dahi bingung. “Lha kamu di hubungin nggak Bisa.”

“Biasanya juga langsung nongol.”

“Ya maaf.”

“Dasar nggak sensitif. Orang aku lagi kesusahan juga… Bukannya dateng ngehibur.”

“Kamu kenapa?” Tanya Bimo penasaran. Firasatnya mengatakan ada ngalamat buruk.

Arimbi menghela nafas panjang kemudian menyesap Ja-Jusnya tandas dalam satu tarikan nafas. “Handphone ku di sita Ibuk.”

“Kok Bisa?”

“Ya bisa lah.”

“Tapi uang saku nggak di potong juga kan?” Tanya Bimo langsung. Dalam hati Bimo komat-kamit membaca rapalan mantra mantra sakti. Jangan sampai uang saku Arimbi juga ikut-ikutan di potong. Kalau sampai itu terjadi, berarti benar kiamat sudah dunianya.

Arimbi menggeleng lemah. “Handphone mu mana?”

“Alhamdulillah…” Gelengan Arimbi itu membuat Bimo sedikit bisa bernafas lega. Perlahan Bimo mengambil handphonenya dari saku celana dan memberikannya kepada Arimbi.

“Handphone kamu buat aku.”

“Lah…”

“Nggak boleh?” Sahut Arimbi sambil mendelik.

“Iya iya… Boleh.” Bimo terpaksa merelakan handphone berpindah tangan. Mengorbankan handphone tidak jadi soal asal jangan sampai Arimbi menjatuhkan embargo. Jatah uang sakunya hanya tinggal 10 lembar. Tanpa bantuan Arimbi mana bisa dia mengisi tangki R6 yang rakus.

Berjarak dua meja di belakang Bimo dan Arimbi, ada sepasang mata yang menatap tajam. Rahang pemilik mata itu gemeretak menahan amarah. Bakso panasnya-pun langsung di lahap habis tanpa di tiup terlebih dahulu. “Awas…” Guman si pemilik sepasang mata itu.

“Ini tak log-out ya.” Belum Bimo menjawab, Arimbi sudah meLog-out semua akun Bimo.

“Terus aku ntar pakek apaan?”

“Ntar pulang sekolah aku beliin hape poliponik, second.” Arimbi masih ingat kemarin di konter dekat rumah ada Nokia jadul 3315. Di bandrol murah hanya 100ribu, belum lagi kalau di tawar.

“Hehe…” Bimo terkekeh sinis. “Hape kok poliklinik.” Hari gini pakai handphone poliponik, layar hitam-putih, ringtone tululit-tululit. Handphone goblog yang hanya bisa telepon dan sms. Duh Gusti!

Sementara itu di tempat lain, Revan, Wanda, Andri, dan Septi sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk melaksanakan ide gila Revan. Semua sudah siap, hanya tinggal memancing sasaran masuk ke dalam jebakan betmen.

“Kalian yakin?” Ujar Septi masih setengah ragu.

“Yakin.” Jawab Revan, Wanda, dan Andri kompak. Sudah terlalu lama Bimo dan Arimbi mencekoki mereka dengan rasa penasaran. Cukup sudah segala teka-teki rumit tentang hubungan mereka sebenarnya. Sekaranglah saatnya memecahkan teka-teki itu. Sekarang atau tidak sama sekali.

oOo
“Ya hallo…”

“—”

“Udah sih Mbak… Tapi ya gitu.”

“—”

“Tapi ya mau gimana lagi, itu kan harus.”

“—”

“Apa sekarang aja Mbak?”

“—”

“Apa nggak kelamaan itu?”

“—”

“Oooo… Iya iya iya…”

“—”

“Kayaknya sih gitu.”

“—”

“Ya coba deh nanti coba kita obrolin lagi.”

“—”

“Ya sama Mbak… aku juga pengennya begitu.”

“—”

“Oke. Jangan lupa ntar kabarin ya.”

“—”

“Wallaikum salam.”

~~~oOo~~~

Bersambung

Author: 

Related Posts