Cerita Sex Casa Del Paraiso : L I V E – L O V E – L I F E – Part 7

Cerita Sex Casa Del Paraiso : L I V E – L O V E – L I F E – Part 7by adminon.Cerita Sex Casa Del Paraiso : L I V E – L O V E – L I F E – Part 7Casa Del Paraiso : L I V E – L O V E – L I F E – Part 7 C H A P T E R 3 P A R T 1 Welcome to Casa Taksi berhenti di depan pintu gerbang Casa. Seorang gadis mungil turun, membawa sebuah kopor besar dan backpack dipunggungnya. […]

tumblr_nkmd7jzwSu1up9txto1_540 tumblr_nkmdn3847d1up9txto1_540 tumblr_nkmdnixqEc1up9txto1_500Casa Del Paraiso : L I V E – L O V E – L I F E – Part 7

C H A P T E R 3
P A R T 1
Welcome to Casa
Taksi berhenti di depan pintu gerbang Casa. Seorang gadis mungil turun, membawa sebuah kopor besar dan backpack dipunggungnya. Gadis itu tampak ragu memandang megahnya pagar besi tempa di depan
Setelah taksi berlalu, pintu pagar membuka. Pohon pohon palm menjulang tinggi di samping jalan berpaving batu. Di depannya, fasad bangunan berwarna putih dan bergaya klasik
Nervous, canggung
Meski demikian, suara roda kopor tetep berdengung, mengikuti gerak langkah hati hati sang gadis
Windy Marcelina… Selamat datang di Casa del Paraiso. Seorang lelaki menyambut dari ruangan sebelah kiri pintu
Pak Aldo ? Bu Elly tidak bisa mengantar… Gadis bernama Windy itu membalas
Oh, iya… Silakan ke sini Winn… Aldo mengayunkan tangan memberi tanda untuk mendekat
Ruang bernuansa klasik, dengan balutan panel-panel kayu lawas bergaya american style yang biasanya sepi, hari ini menjadi ramai. Aldo duduk di kursi besar, di sebelah kirinya empat gadis duduk di sofa berhadapan dengan seorang lagi yang duduk memangku tas ransel besar
Aldo mempersilakan duduk lalu memperkenalkan ke empat gadis penghuni Casa
Oke, Windy di sebelahmu itu Hanna. Dia juga baru saja datang, kalian berdua sebentar lagi resmi menjadi anggota baru Casa del Paraiso

~0~
Windy tercengang ketika memasuki bagian belakang Casa
Besar sekali… Gadis itu bergumam sambil memperhatikan tiap sudut hall yang hanya berbatas dinding kaca dengan taman belakang
Ayuk naik, Windy di sebelah sana, Hanna sebelahan sama aku.. Rahma menjelaskan sambil menaiki tangga. Tas dan kopor masing masing ditinggal di ruang duduk di bawah. Rahma mengantarkan Hanna, gadis semampai dengan tinggi yang hampir sama dengannya
Win… ini kamar kamu. Sebelahan sama aku. Risa membuka pintu kaca kamar
Hehe…kaget ya, semua kamar memang dindingnya kaca menghadap ke tengah. Butuh penyesuaian memang, tapi semua worthed. Kamar kamu dan Hanna sama, putih. Interiornya baru dikerjakan bulan depan
Ohh… Ini sudah lebih dari cukup kok, Mbak. Windy memandang ranjang besar putih yang sepertinya jauh lebih nyaman daripada kasur busa yang biasa dipakainya
Berenam, mereka kembali ke ruang makan
Nah, Windy … Hanna … Ini masing masing kartu kredit kalian. Bisa mulai dipergunakan besok. Desty menyerahkan dua amplop berlogo Bank tempatnya bekerja. Gadis itu menjelaskan cara pemakaian beserta aturan aturan Casa tentang penggunaan kartu tersebut
Jadi pada prinsipnya, silakan dipakai untuk keperluan yang baik. Kalian di sini belajar, jangan berfoya foya. Yang kaitannya dengan keuangan masa lalu sebelum kalian datang ke casa, entah hutang personal, atau yang lain, bisa dibicarakan dengan aku atau Aldo
Mbak… jadi… Hanna memandang amplop tersebut bingung
Iya Hann… kalian dibebaskan untuk menggunakan kartu itu. Untuk keperluan sehari hari tentunya. Dengan batasan limit bulanan seperti yang aku jelaskan tadi
Mata Hanna berkaca kaca. Mahasiswi, murid Aldo di kampus itu menatap seakan tak percaya. Beberapa minggu lalu, gadis itu setengah memaksa Aldo, sebagai dosen pembimbing akademisnya untuk menandatangani persetujuan pengajuan cuti kuliah, karena tidak ada dana dan demi tawaran bekerja sebagai TKI di Malaysia. Bahkan, gadis itu pernah mempertimbangkan untuk menjual tubuhnya demi meneruskan kuliah dia
Nah, sekarang sebaiknya kita mandi, lalu jalan jalan

~0~
ehm… Mbak… ngg… kalian nudist ya. Hanna bengong melihat keempat gadis di depannya mulai melepas baju di ruang tengah
Ha? Kita nudist bukan ya? Yuri genit menjawab
Tapi Pak … eh.. Mas Aldo ada di depan lo… Hanna ragu meneruskan
Nah, ini pelajaran pertama Hann.. Desty mendekati gadis ramping di depannya, lalu tangannya memegang kerah bajunya
Kita semua terbuka disini, entahlah apa itu artinya kita nudist. Yang pasti, kalian akan belajar menjadi wanita di Casa. Jari Desty mulai mempereteli kancing dari pakaian Hanna
Rambut kamu cantik win… Pantes banget sama wajah kamu , gemesin… Risa berkata
Windy tanpa ragu melepas semua pakaiannya, rambutnya yang panjang di gerai ke depan, menutupi sepasang buah dada mungil yang juga menggemaskan. Wajahnya memerah, malu
Hanna yang tadinya ragu-pun, akhirnya diam saja ketika Desty melepas semua kain yang ada di tubuhnya

~0~
Seorang lelaki kurus duduk terpekur di kursi tamu. Matanya menatap ke lantai. Di depannya, pemimpin perusahaan konstruksi skala nasional membentak bentak marah. Caci maki bertebaran di tiap kalimat yang keluar dari wajahnya yang bulat
Dion… Pandangi saya kalau bicara… Lelaki tua itu membentak kembali
Saya Pak
Saya terpaksa berhubungan dengan orang orang itu gara gara kamu. Lelaki itu membentak lagi, lalu memegang kepalanya
Saya tak bermaksud begitu Pak… Dion menjawab lirih. Lelaki yang dikenalnya selama setahun terakhir, baru kali ini dilihatnya marah. Mengamuk lebih tepatnya
Well, nyatanya… Laporan keuangan yang kamu bikin, membuat aku harus berurusan dengan BPK. Lalu kejaksaan. Dan yang terakhir, mafia itu datang ke sini
Saya tangani pak… Dion menjawab lirih
Jelas kamu yang harus tangani. Buat apa aku bayar kamu mahal, kalo ada masalah kamu pergi. Mafia itu, aku kenal mereka. Aku pernah lama ada di jaringan mereka, tapi aku sudah lama keluar dari jaringan mereka. Dan kau membuatku harus berurusan dengan orang orang itu lagi. Lelaki itu menggebrak meja kembali
Pak… Mereka meminta biaya tidak sedikit untuk menutup kasus ini di kejaksaan. Dion berkata
Terserah… itu urusan elu ! Pokoknya, kalau sampai aku dipanggil lagi ke kejaksaan, aku akan tunjukkan semua tanda tanganmu ke sana

~0~
Dion menutup pintu kamar hotelnya dengan keras. Kesal
Dia mengutuk dirinya sendiri yang terlambat mengantisipasi gerakan beberapa pejabat menengah dari Surabaya, yang membuat kecurigaan awal dari BPK mengarah kepada kliennya
Bro, lu dimane… Dengan logat ibukota, lelaki itu menelepon seseorang
Malam belum terlalu larut, ketika pacar Rahma itu terlihat memasuki sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam
Udah … pokoknya, gua pusing. Gua ga peduli lu mau bawa kemana, gua pusing
Santai broo… Kita berpesta malam ini. Rilex, enjoy your time Lelaki di sebelahnya menjawab
Fren, cariin tempat yang ada ceweknya … Dion memandang keluar kaca mobil
Musik dengan tempo cepat mengiringi beberapa panggung kecil yang berisi penari wanita. Night-club dengan logo M besar di pintu masuk, merupakan tempat favorit Edwin, teman Dion
Edwin, sering menghabiskan waktunya disini. Sebagai seorang marketing asuransi, dengan koneksi yang bagus dari berbagai kalangan, membuat hidup lelaki tersebut cukup dekat dengan dunia hiburan
Kacamata kecil yang dipakai Dion terlihat mengembun, namun tak ada niat sama sekali darinya untuk membersihkan. Jelas, lelaki itu sudah cukup mabuk. Edwin yang duduk di sebelahnya, terlihat berbincang sambil sesekali tertawa dengan beberapa lady-escort
Tanpa berkata apa apa, Dion berdiri, limbung. Edwin masih cukup sadar untuk mencekal lengan kawannya tersebut, lalu membisikkan sesuatu yang diikuti dengan anggukan Dion
Gals…bantuin dong, ikut sekalian yuk… Kita pesta di tempat lain. Edwin memberi kode kepada tiga lady-escort seksi yang kemudian ikut berdiri dan memapah Dion keluar

~0~
Bluuurrpp…hoooookkkcchhhhh…..

Dion memuntahkan sebagian cairan yang tak mampu diserap oleh tubuhnya. Badannya menggelosor lemas di lantai kamar mandi hotel. Lengannya menghimpit erat dinding bathtub, seakan akan badannya akan hancur jika terjatuh ke lantai
Perlahan, kesadarannya sedikit demi sedikit mulai membaik. Setelah dirasa kuat, Dion mendorong badannya ke atas, mencoba berdiri. Limbung, lelaki itu bepegangan pada meja wastafel di samping kloset
Dion membasuh wajahnya, lalu memakai kacamatanya kembali. Dengan tertatih, lelaki itu berjalan keluar
Ranjang kingsize hotel berbintang lima pun juga berderit. Pinggul mulus gadis berrambut merah naik turun, bagai naik kuda, gadis itu mengendarai kejantanan Edwin
Dion mengalihkan pandangan dari pergumulan Edwin dan dua wanita di atasnya. Satu orang gadis yang lain, nampak tertidur pulas di sofa
Sambil meraih kunci kamar di meja, Dion memilih untuk keluar dari sana
Dion duduk di sofa lounge. Handphone di tangannya memperlihatkan gambar seorang gadis cantik berrambut pendek, Rahma, kekasihnya
Minggu lalu, sebelum dia berangkat ke Jakarta, Dion sedang bertengkar hebat dengan Rahma. Seperti biasa, cemburu
i miss you.. Tiga kata dikirimkan juga melalui handphone setelah hampir setengah jam lalu diketik
Dion tak mengharap balasan, waktu sudah terlalu larut, bahkan menjelang pagi. Meskipun pengaruh alkohol sudah mereda dihajar kafein dari cangkir di depannya, namun rasa pusing masih menyelimuti kepala lelaki berkacamata kotak itu
Kasus kliennya, yang sedikit terlupakan selama beberapa jam, kembali menghajar kepalanya. Angka lima milyar yang diminta utusan mafia untuk melenyapkan kasus tersebut belum di tangan. Bahkan, dengan terang, klien tak mau tahu
Rahma, memandangi wajahnya, meski hanya lewat layar handphone, selalu bisa membuat kepalanya lebih ringan
the hell with this.. Dion bergumam, lalu berdiri menuju elevator
Edwin sudah tertidur di ranjang. Dua gadis yang melayaninya juga pulas di kedua sisi sampingnya. Praktis, ranjang utama itu penuh
Dion melirik sofa. Gadis escort, manis, tergolek di sana. Anak rambutnya yang sebahu menutupi sebagian wajah cantik. Lelaki itu mendekat, lalu berjongkok persis di dekat kepalanya
cantik… Dion bergumam sambil menyibak rambut tersebut
Kening gadis itu dikecup perlahan. Tak bergeming, Dion melanjutkan dengan merengkuh pundak gadis itu. Tak hanya tertidur, nampaknya si gadis amoy itu dalam pengaruh yang lebih dalam, mungkin narkoba
Night-club yang remang remang, ditambah dengan minuman keras yang ditenggaknya membuat Dion tak sadar, betapa cantik cantiknya gadis yang diajak Edwin. Dipandangnya seluruh tubuh yang terduduk lemas di sofa tersebut

~0~
Kyaaa…. Windy imut sekali kamuu… Risa bersorak
Ih, mbak Risa…malu ih
Windy mengambil tempat duduk di meja makan, berenam mereka sudah siap sarapan. Hanya Risa dan Windy yang sudah rapi. Yang lain, jangankan mandi, Rahma yang juga baru bangun, cuma memakai celana dalam pink dan Tshirt putih sepinggul
iya lo Win, kamu beneran imut. Yuri berkata
Siapa dulu dong penata gaya nyaa… Desty menyahut sambil menggigit roti bakar
Iya lo.. Mbak Desty dari pagi udah nongkrongin kamar aku. Dandanin aku…hihi

Windy berseragam sekolah putih abu abu, memang terlihat imut pagi itu. Rambutnya yang panjang dikucir dua kiri kanan dengan pita merah-kuning, dan poni yang menutupi dahi sampai menyentuh alis. Pipinya chubby, putih bersih dengan mata sedikit sipit yang semakin sipit kalo tersenyum
Berangkat bareng aku aja Win… Aku ada jadwal pagi soalnya, udah siap kan? Risa berkata
iya mbak
Pagi cewek ceweeek… Aldo menyapa dari arah pintu
Yuri segera menyiapkan piring sarapan dan kopi
Mas, aku mau berangkat dulu. Windy aku antar aja, sekalian. Risa berpamitan sambil cium pipi kiri kanan Aldo
Ingat yaa, nanti sore jam empat semua harus ada di rumah. Hanna, Windy selama tiga bulan, tidak boleh keluar rumah dulu. Karantina ala Casa del Paraiso
Hanna ada kuliah? Aldo bertanya
Jam 9, Pak..ehm…mas… duh.. ehm..Mas Aldo kan dosen aku di kampus, susah manggil Mas. Hanna tersipu
Haha…gapapa deh..terserah manggil apaan
Haha… Berangkat bareng aja Hann… Rahma menyahut dengan mulut yang masih mengunyah

~0~
Aldo sedang mengetik di perpustakaan. Lelaki itu sedang menyusun laporan mengenai kedua member baru Casa. Beberapa map tersebar di atas meja, beberapa foto, fotokopi ijasah, berkas berkas administrasi dan beberapa coretan coretan tangan
Tok… tok … tok
Pintu ruangan yang setengah terbuka diketuk dari luar. Kepala Desty melongok ke dalam. Dengan anggukan Aldo yang masih konsentrasi di laptop, gadis itu masuk
Desty berjalan ke arah jendela. Memandang keluar, termenung
Apa Des… gak biasanya kamu. Aldo bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya
nothing… wanita molek itu menjawab pendek
Desty berjalan mendekat, berdiri di sampingnya
Jangan jangan… kamu cemburu ya, ada dua cewek baru masuk. Hihi
Enak ajaa… Desty merangkul kepala Aldo, lalu menciumnya
eh tapi, kamu enak ya… dapat barang baru, dua lagi. Haha
Sekelebatan terlihat dari posisi Desty, Yuri sedang berjalan di hall, gadis itu memanggilnya
Yur….sini
Eh… Des… Windy imut banget loh… Hebat kamu
Eh iya Al, nanti gimana dong. Yuri bertanya setelah duduk
Gimana apanya Yur? Aldo membalas
Sex Al… Desty menegaskan
Ohh..iya… Kalau menurutku, sedikit perubahan di Casa gapapa kan ya. Kan, kalo dipikir pikir, pelajaran sex kan nggak harus berarti sama aku
Dulu, yang lain kan kenal seks dari Mama. Kamu, cuma beruntung aja jadi anak mama. Jadi bisa main sama kita kita bebas. Hahahahaa… Desty menggoda
Jadi, bukan gara gara kehebatanku? Aldo memundurkan kursinya, lalu memegang selangkangannya sendiri
Hahaha…. Aldo ih. Mesum banget. sahut Desty sambil pura pura menutup wajah
Tiba tiba Yuri, menatap Desty dengan pandangan aneh. Sang perawat montok, yang hari ini sedang libur, memberikan tatapan nakal
Gadis itu berdiri, lalu mendekat ke arah Desty. Tangan kanan Yuri meraba badannya sendiri, ke bawah, hingga ke ujung tshirt putih yang dipakainya. Terlihat, jarinya meraba dan menekan bagian bawah perut. Badannya sedikit menggelinjang pelan
Waduh… Desty menegakkan badannya saat Yuri semakin mendekat
mmmmmmhhhh…hhmmmhhhh…. Yuri melumat bibir Desty tanpa aba aba
ahhh…. Desty melenguh, telapak tangan Yuri berpindah ke pantatnya. Perawat yang berambut agak kemerahan itu meremas bulatan bokong Desty, sambil meneruskan mencium bibirnya dengan buas
Desty berusaha mundur, meja di belakangnya menghentikan upaya wanita montok itu
eehh…. badannya di dorong Yuri hingga punggungnya terbaring di meja
Dengan gerakan yang sedikit buas, Yuri menggigit gigit dada Desty yang masih tertutup kain daster. Bukan hal yang susah untuk menemukan ujung sensitif buah dada gadis montok tersebut
ooohhhsss…. Desty mendesis, lalu mengangkat pahanya ke atas, mencari pijakan di ujung meja
Seperti sudah ada pengatur gaya, Yuri segera menurunkan kepalanya hingga setinggi meja, menghadap persis ke arah kewanitaan Desty yang terbuka
Kedua tangan Desty mencengkeram rambut Yuri
Aldo tak tinggal diam. Tangannya nakal meraba pantat Yuri yang nungging
Plakk… Pantat yang menggoda itu ditepuk perlahan
Jarinya merambat ke bawah, merasakan lembabnya kewanitaan Yuri
Tak mau menunggu lama, Aldo segera menarik celananya ke bawah. Batang penisnya tersembul, berdiri tegak
ouhhhff…..aaahhh….terus Yuuurr… Desty mengerang, merasakan nikmatnya lidah gadis itu di bibir kemaluannya
Suara seksi kedua wanita itu cukup membuat Aldo terangsang. Badannya segera mendekat ke arah pinggul Yuri dari belakang
heeehhhffff…… Gantian Yuri yang mengerang, sesuatu yang kerasn dan tumpul sedang memaksa memasuki badannya
Plaakk…. Aldo kembali menampar pelan pantat Yuri. Pinggulnya digerakkan maju mundur
Desty tak mau kalah, tangannya menarik kepala Yuri semakin keras ke arah selangkangannya, tak mau kehilangan momen kenikmatan
Kedua pasang mata saling bertatap, Desty dan Aldo, dengan Yuri di antaranya
Aaahhhh……..ahh…ahh…….huuuffft….. Desty mengejang. Puncak kenikmatannya didapat dari jilatan lidah Yuri
Terlepas dari tangan Desty, kepala Yuri segera bangkit
oohhh…oph…..ohhh… sambil mengerang nikmat, badannya sedikit ditegakkan. Tangan Aldo segera meraih dada Yuri yang membusung dan menahannya ke posisi sedikit tegak
Badan Yuri bergoncang goncang menerima tusukan kenikmatan dari Aldo yang semakin cepat
ooohhh…. Aldo membuang nafas, bersamaan dengan puncak kenikmatan yang dirasakan mereka berdua

~0~
Aldo kembali duduk di kursi. Kakinya diluruskan berselonjor miring
aahhh.. Lelaki itu membuang nafas,s ambil memandang Desty yang duduk di meja
Hihi… Yuri terkikik meski butir butir keringat masih menempel di keningnya. Dia terduduk lemas di lantai
Yuriiii..nakal kamuuu… Desty menowel dada Yuri dengan ujung kakinya
Iya… seks… bercinta dengan kalian, selalu nikmat. Aldo tersenyum lebar
kan ini tadi quickie…. Lagi aja yuk? Desty mengerling nakal

~0~

Author: 

Related Posts